July 30, 2010

Skripsi Itu...

Pada postingan sebelumnya gue bercerita tentang awal skripsi gue. Nah sekarang gue akan bercerita tentang kata-kata pertama gue di dalam skripsi itu. Salah satu tahapan dari skripsi adalah seminar proposal. Pada tahapan ini diwajibkan untuk membuat proposal tentang apa yang akan ditulis di dalam skripsi, masalah apa yang ditemukan, metode-metode yang dipakai dalam memecahkan masalah itu, dan yang paling penting adalah alasan mengangkat topik tersebut.


Sekarang gue lagi duduk melototin layar komputer ini. Tadinya gue mau nulis banyak, tetapi tiba-tiba gue blank. Gue teringat seseorang. Gue mau cerita, tapi pasti jadinya OOT deh, alias Out of Topic gitu. Hehehe. Gue akan cerita tentang dia nanti yah. Keep it on the track!


Skripsi itu bagi gue seperti meraba-raba di dalam gelap. Gue tahu sih apa yang gue cari, tapi gue ga tau di mana, dan gue belum memiliki alat yang dapat membantu gue menemukan benda yang gue cari itu. Itulah rasa pertama yang gue rasakan ketika pertama kali menyentuh komputer dengan niat menulis proposal skripsi. Hal berikutnya yang gue alami setelah beberapa langkah memulai adalah gue mulai menemukan alat-alat yang mempermudah jalan gue. Gue menemukan sebuah pola di dinding. Pola tersebut semacam garis yang menonjol di dinding yang gue raba sepanjang perjalanan gelap gue. Selanjutnya gue menemukan senter, kemudian beberapa senter lagi. Hingga ketika berhadapan dengan penguji di ujian seminar proposal, mereka menyarankan gue untuk menyorot dinding itu menggunakan senter yang gue miliki. Gue pun melihat pola yang tadinya hanya bisa gue rasakan dengan sentuhan tangan.


Selain pembimbing dan penguji, gue juga sangat berterima kasih kepada teman-teman gue yang juga memberikan gue baterai untuk senter gue. Di dalam proses diskusi dengan pembimbing, penguji, dan teman-teman gue, gue merasakan kehangatan dari mereka. Yang pada awalnya skripsi itu seperti momok yang menakutkan dan menguras banyak sekali pikiran dan tenaga, kini menjadi lem yang merekatkan. Setelah berdiskusi dengan pembimbing, penguji, dan teman-teman, gue semakin mencintai skripsi gue. Ternyata skripsi itu adalah kendaraan gue bersilaturahmi dengan orang-orang di sekitar gue.

July 29, 2010

Skripsi

Hiya mates! How's it going?
I'm suffering from a bad cough, and thanks God the rest is all right.
Sekarang gue mau cerita tentang perjalanan awal gue menulis skripsi. Basically gue menulis tentang peranan aktor di dalam sebuah puisi. Gue memilih puisi "When I Heard the Learn'd Astronomer" karya Walt Whitman. Awalnya gue memilih puisi karya Robert Frost yang berjudul "The Road not Taken", tetapi dosen pengajar gue di mata kuliah Seminar Praskripsi menyarankan untuk memilih puisi lain karena puisi tersebut too popular, telah banyak yang membahas tentang puisi tersebut. Maka gue memilih puisi Opa Whitman aja, yang temanya masih mirip ama The Road not Taken.


Gue memilih puisi beraliran Realisme tersebut karena gue suka ama temanya yang bercerita tentang pilihan hidup. Ini sesuai banget dengan diri gue. Pada beberapa moment di dalam hidup gue, gue tertempatkan di titik tengah di antara dua pilihan yang amat sulit. Sewaktu gue mendapatkan kesempatan mengikuti program volunteering di Glasgow, Scotland, saat itu bulan Maret 2006, sedangkan pada bulan April akan diadakan Ujian Akhir Nasional, maka gue harus memilih antara program tersebut atau Ujian Akhir Nasional. Gue pun berdiskusi dengan orang tua dan guru-guru gue di sekolah. Mereka menyarankan untuk tetap mengikuti program tersebut karena kesempatan tesebut belum tentu datang dua kali. Okay, jadi gue berangkat deh, meninggalkan sekolah gue yang tinggal sebulan lagi.


Moment yang kedua yaitu ketika gue harus memilih antara Briton dan kuliah gue. Seperti yang gue ceritakan di postingan sebelumnya, gue mendapatkan kesempatan kuliah di Sastra Inggris itu gak mudah lho. Tetapi ketika mendapatkan kesempatan kerja di Briton, gue senpat berpikir juga sih. Maka gue kembali berdiskusi dengan orang tua. Setelah mendengarkan plus-minus dari kedua hal tersebut, maka gue memutuskan untuk memfokuskan waktu gue pada kuliah. Gue lepas deh Briton.


Gue selalu mendiskusikan apapun tentang pilihan dengan orang tua gue. Mereka sih memberikan gue hak penuh untuk memutuskan apapun yang menyangkut kehidupan pribadi gue, mereka hanya memberikan pandangan-pandangan tentang plus-minus dari setiap pilihan yang ada. Kata mereka, kehidupan pribadi gue yang jalanin, bukan mereka, maka gue lah yang berhak sekaligus bertanggung jawab penuh dalam setiap keputusan yang gue buat. Mereka hanya ga mau melihat anak-anaknya membuat keputusan yang akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Mereka selalu mengingatkan bahwa setiap keputusan yang diambil haruslah dipertanggungjawabkan sepenuhnya, dan untuk tidak menyesali keputusan yang telah diambil tersebut.


Seperti itulah tema dari puisi yang gue ambil sebagai skripsi gue. Tentang pilihan hidup. Tentang pentingnya kita memikirkan dan memutuskan secara bijak setiap pilihan dalam hidup kita masing-masing agar ga ada penyesalan di kemudian hari.

Baru Baru Baru..Cihuy!

Hey!
How are you doing, my blog?
It's been ages and ages!
Lama banget baru main ke sini lagi. Sudah berapa lama yah? Kira-kira sudah tujuh puluh tahun kali yah? Well well well, right right right, mari kita menulis lagi!


Okay then, here you go.
Bulan berapa sih sekarang? Oh iya, sudah bulan Juli 2010! Ga terasa, kemarin sewaktu nulis "Second" masih bulan Maret 2009, sekarang sudah bulan Juli 2010. Gue pun menyadari bahwa gue semakin dekat dengan liang lahat. Yes, you're right reading that "liang lahat." Bukankah semakin bertambahnya usia kita sesungguhnya berarti semakin dekat kita dengan liang lahat? So, let's be thankful for everything you've got in your entire life!


Gue mau nulis apa yah? Gue juga bingung. Postingan terakhir gue tentang lamaran kerja gue ke Briton. Gue tuntasin di sini aja deh. Sebenarnya sih mau nulis dalam beberapa part gitu, tetapi keburu basi. Hehe. Jadi ceritanya gue diterima kerja di Briton. Briton itu merupakan tempat kursus bahasa Inggris terbesar di kota gue, Makassar. Briton bahkan merupakan tempat kursus bahasa Inggris terbesar di seluruh Indonesia bagian Timur. Jadi gue bangga dong diterima kerja sebagai English Tutor di sana. Tapi gue ga lama di sana, cuma sekitar empat bulan gitu soalnya waktu itu bertepatan dengan masuknya gue di Universitas Hasanuddin sebagai mahasiswi baru. Di Briton menginginkan kerja full-time, sedangkan kuliah gue waktu itu lagi padat-padatnya soalnya kan semester awal, dan bijaknya gue resign aja dari Briton.


Gue lebih memilih kuliah gue. Ga gampang lho masuknya. Waktu itu papa menyuruh gue masuk Fakultas Kedokteran, tetapi karena hati gue adanya di English Linguistics maka gue bersikeras dong masuk ke Sastra Inggris. Sejak gue kecil gue jatuh cinta banget dengan English Linguistics dan English culture. Di samping itu, gue juga suka banget membaca karya-karya sastra, jadi pas banget kan gue nyemplung di Sastra Inggris. Singkat cerita, setelah perdebatan panjang dengan papa, thank God gue akhirnya masuk deh di Sastra Inggris. Jadi tentunya gue menjalankannya dengan segenap jiwa. Cailah.


Okay, cukup ga tuh cerita gue tentang Briton? Cukup kan.
So let's jumping up onto the next topic!


Gue lagi KKN nih di Pertamina Unit Pemasaran IV, Makassar.. Mulai KKN sejak tanggal 28 Juni 2010 dan akan berakhir tanggal 27 Agustus 2010. Cerita soal KKN, so far so good lah. Pertama masuk gue bingung banget, kurang banget kerjaan yang dikasih. Gue maklum sih, klo kerjaan yang sensitif diberikan ke peserta KKN, terus kerjaan kita ga benar kan bisa berabe. Jadi mereka cuma memberikan kerjaan-kerjaan yang bisa kita kerjakan dengan baik. Tetapi gue mendapatkan pengalaman yang berharga tentang dunia kerja. Minggu ini adalah minggu kelima gue KKN. Tinggal empat minggu lagi, men! Hahaha.


Gue nulis tulisan ini di ruangan gue, di salah satu meja kerja pegawainya. Well, ga ada cerita yang menarik sih selama gue nulis ini. Beberapa cerita gue akan gue tulis di postingan-postingan selanjutnya. Gue nulisnya suka-suka gue aja yah. Blog, blog gue. Ya kan? Hahaha.