Pada postingan sebelumnya gue bercerita tentang awal skripsi gue. Nah sekarang gue akan bercerita tentang kata-kata pertama gue di dalam skripsi itu. Salah satu tahapan dari skripsi adalah seminar proposal. Pada tahapan ini diwajibkan untuk membuat proposal tentang apa yang akan ditulis di dalam skripsi, masalah apa yang ditemukan, metode-metode yang dipakai dalam memecahkan masalah itu, dan yang paling penting adalah alasan mengangkat topik tersebut.
Sekarang gue lagi duduk melototin layar komputer ini. Tadinya gue mau nulis banyak, tetapi tiba-tiba gue blank. Gue teringat seseorang. Gue mau cerita, tapi pasti jadinya OOT deh, alias Out of Topic gitu. Hehehe. Gue akan cerita tentang dia nanti yah. Keep it on the track!
Skripsi itu bagi gue seperti meraba-raba di dalam gelap. Gue tahu sih apa yang gue cari, tapi gue ga tau di mana, dan gue belum memiliki alat yang dapat membantu gue menemukan benda yang gue cari itu. Itulah rasa pertama yang gue rasakan ketika pertama kali menyentuh komputer dengan niat menulis proposal skripsi. Hal berikutnya yang gue alami setelah beberapa langkah memulai adalah gue mulai menemukan alat-alat yang mempermudah jalan gue. Gue menemukan sebuah pola di dinding. Pola tersebut semacam garis yang menonjol di dinding yang gue raba sepanjang perjalanan gelap gue. Selanjutnya gue menemukan senter, kemudian beberapa senter lagi. Hingga ketika berhadapan dengan penguji di ujian seminar proposal, mereka menyarankan gue untuk menyorot dinding itu menggunakan senter yang gue miliki. Gue pun melihat pola yang tadinya hanya bisa gue rasakan dengan sentuhan tangan.
Selain pembimbing dan penguji, gue juga sangat berterima kasih kepada teman-teman gue yang juga memberikan gue baterai untuk senter gue. Di dalam proses diskusi dengan pembimbing, penguji, dan teman-teman gue, gue merasakan kehangatan dari mereka. Yang pada awalnya skripsi itu seperti momok yang menakutkan dan menguras banyak sekali pikiran dan tenaga, kini menjadi lem yang merekatkan. Setelah berdiskusi dengan pembimbing, penguji, dan teman-teman, gue semakin mencintai skripsi gue. Ternyata skripsi itu adalah kendaraan gue bersilaturahmi dengan orang-orang di sekitar gue.
Sekarang gue lagi duduk melototin layar komputer ini. Tadinya gue mau nulis banyak, tetapi tiba-tiba gue blank. Gue teringat seseorang. Gue mau cerita, tapi pasti jadinya OOT deh, alias Out of Topic gitu. Hehehe. Gue akan cerita tentang dia nanti yah. Keep it on the track!
Skripsi itu bagi gue seperti meraba-raba di dalam gelap. Gue tahu sih apa yang gue cari, tapi gue ga tau di mana, dan gue belum memiliki alat yang dapat membantu gue menemukan benda yang gue cari itu. Itulah rasa pertama yang gue rasakan ketika pertama kali menyentuh komputer dengan niat menulis proposal skripsi. Hal berikutnya yang gue alami setelah beberapa langkah memulai adalah gue mulai menemukan alat-alat yang mempermudah jalan gue. Gue menemukan sebuah pola di dinding. Pola tersebut semacam garis yang menonjol di dinding yang gue raba sepanjang perjalanan gelap gue. Selanjutnya gue menemukan senter, kemudian beberapa senter lagi. Hingga ketika berhadapan dengan penguji di ujian seminar proposal, mereka menyarankan gue untuk menyorot dinding itu menggunakan senter yang gue miliki. Gue pun melihat pola yang tadinya hanya bisa gue rasakan dengan sentuhan tangan.
Selain pembimbing dan penguji, gue juga sangat berterima kasih kepada teman-teman gue yang juga memberikan gue baterai untuk senter gue. Di dalam proses diskusi dengan pembimbing, penguji, dan teman-teman gue, gue merasakan kehangatan dari mereka. Yang pada awalnya skripsi itu seperti momok yang menakutkan dan menguras banyak sekali pikiran dan tenaga, kini menjadi lem yang merekatkan. Setelah berdiskusi dengan pembimbing, penguji, dan teman-teman, gue semakin mencintai skripsi gue. Ternyata skripsi itu adalah kendaraan gue bersilaturahmi dengan orang-orang di sekitar gue.
