Gue beberapa minggu ini nulis artikel untuk tiga NGOs di kota "X". Salah satu NGO tersebut menolong minority ethnic disabled people untuk kualitas hidup yang lebih baik dengan cara memudahkan akses- akses pendidikan, employment, social welfare, health leisure, recreational and cultural opportunities. Gue nulis tentang negara gue, lebih spesifik lagi tentang lingkungan sekitar gue. Awalnya karena email- emailan dengan teman yang di sana, terus dia minta izin nge-print email gue untuk artikel gitu, soalnya "baru" gitu katanya. Gue menuliskan apa adanya. Gue sama sekali ga mengedit apapun dari mata, telinga, dan otak gue. Dan itulah yang mereka suka. Katanya tulisan gue "naked" banget, "pure" gitu. Gue emang nulis purely soalnya gue suka yang "naked- naked". Hahaha :p
Wokey, enough for the writing part time-job stuff.
Gue sebenarnya mau curhat, but first, does it have to be censored first?
NO GO!
Ayahku adalah seorang yang sangat strict. Beliau mengajarkan tentang aturan- aturan dan norma- norma. Sejak kecil, Papa ( begitu gue memanggil beliau ) memberikanku segudang aturan dan norma yang harus gue patuhi. Beliau memberikan "hukuman" ketika gue tidak mematuhi dan melanggarnya. "Hukuman" tersebut bisa aja hanya berupa "nasehat", kadang juga kalau gue udah kelewat batas, beliau menyuruh gue pergi tidur. Honestly, gue ga terlalu suka "hukuman" semacam menyuruh pergi tidur, sebel aja. Tetapi itu lebih baik ketimbang cambukan jangka besi milik ibu guru sewaktu SD dulu. Kadang gue bertanya- tanya, mengapa mereka tega menyakiti fisik anak- anak dan anak didik mereka? Gue telah mendapatkan jawabannya, bahwa dengan begitu anak- anak dan anak didik mereka akan jauh menghargai aturan dan norma. Dan tentu saja akan menghargai hidup mereka. Sekian soal hukuman- hukuman. Gue ga begitu suka menghukum, ga berperikemanusiaan. Tetapi ada hal lain yang lebih ga berperikemanusiaan, gue akan ceritakan pada note ini.
Sedikit hal tentang Papa.
Papa seorang yang saaaaaangat sangat pintar, brilliant, intellect, and so forth and so forth. Mengapa gue begitu yakin dan PD menuliskan semua karakteristik- karakteristik tersebut? Karena setiap hal yang gue tanyakan pada Papa, selalu dijawab dengan cepat, lugas, dan brilliant. Papa sangat jarang menjawab "pas". You know "pas"? Ketika main kuis, dan kamu ga bisa jawab, maka kamu mengatakan "pas". Papa jarang menjawab "pas". Seingat gue, in my entire lfe, belum lebih dari sepuluh kali. Gue serius menghitungnya, soalnya bagi gue hal tersebut merupakan hal yang luar biasa. Mama mengimbangi Papa. Mama menjawab pertanyaan- pertanyaan gue dengan "rasa keibuannya". Maksudnya kadang hal- hal "abnormal" yang gue tanyakan dijawab dengan "diplomatis" dan sangat "keibuan". Dua manusia yang bagaikan air dan api, yang sangat gue kagumi, menyatu dalam gue.
Salah satu aturan yang Papa ajarkan adalah tentang menghargai waktu. Gue seorang muslimah. Satu perintah wajib kami adalah shalat lima waktu. Masing- masing memiliki waktunya. Kami diwajibkan untuk menunaikannya setiap waktunya tiba, jika telah lewat waktunya, maka lewatlah shalatnya. Though Allah memberikan kami toleransi "menggabungkan" shalat yang tertinggal dengan shalat yang berikutnya kecuali shalat Subuh. Hal lain tentang waktu adalah pada saat bulan Ramadhan. Dua waktu penting pada bulan Ramadhan yaitu Subuh dan Maghrib. Waktu Subuh ditandai dengan masuknya Fajar, pada saat itu pulalah puasa dimulai. Waktu Maghrib ditandai dengan terbenamnya matahari, pada saat itulah kami berbuka. Jika kami bermain- main pada dua waktu tersebut, maka makruhlah puasa kami. Gue ga berbicara begitu banyak soal agama, gue bukan manusia sempurna, ga ada manusia yang sempurna anyway. Gue cuma mau menekankan bahwa begitulah agama gue, Islam, mengajarkan betapa kita harus sangat menghargai waktu ( dengan segala toleransinya ).
Sejak kecil gue selalu berusaha semampu gue untuk menghargai waktu. Ketika gue telat, gue merasa sangat sangat berlumur dosa. Papa mengajarkan untuk membuat timetable dan skala prioritas. Di dalam timetable tersebut gue harus menuliskan waktu mulai dan berakhirnya setiap kegiatan dalam sehari hidup gue. Dengan begitu sangat minim waktu yang gue buang. Benar saja kata di dalam bahasa Inggris, "to spend" dan "TO WASTE" itu sangatlah berbeda. Papa memberikan toleransi, ketika semua hal SANGAT PENTING dalam sehari hidup gue telah gue lakukan, gue boleh "WASTE" a wee bit time of mine. Dalam hal ini Papa mengajarkan pentingnya menghargai waktu yang diberikan orang lain. Waktu yang diberikan orang lain tersebut juga dilabel dengan label "SANGAT PENTING."
Papa mengajarkan pentingnya menegakkan aturan dan norma tanpa pandang bulu, tanpa "ngaret" tentunya. Mama mengajarkan pentingnya memberi maaf pada ke-"ngaret"-an yang terjadi. Tetapi setiap gue memberikan maaf untuk ke-ngaret"-an yang terjadi, gue kecewa. So I can barely forgive anyone yang melanggar aturan. Tidak menghargai waktu merupakan hal yang lebih tidak berperikemanusiaan selain memberikan hukuman fisik pada anak- anak dan anak didik. People say me arrogant, no I am not. I am STRICT.
Papa dan Mama mengajarkan pentingnya menghargai waktu, mematuhi timetable, membuat skala prioritas, memberikan sangat sedikit toleransi, mengapa?
BECAUSE YOU CAN NEVER TURN BACK THE TIME.
August 11, 2010
August 09, 2010
Kebiasaan "Tertawa-tawa" Orang Indonesia
Yak, kali ini gue mau nulis sedikit tentang hal yang gua alamin tadi siang.
Jadi ceritanya tadi itu dosen pendamping gue untuk kegiatan Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKNP) datang ke tempat KKNP gue. Just for your record, gue KKNP di Pertamina Unit Pemasaran IV, di fungsi Marine Region VII. Sebelum sampai di tempat gue, beliau nelpon berkali-kali nanya letak kantornya di mana. Berkali-kali juga gue jelasin jalan menuju ke kantor, tapi ga tau kenapa beliau kagak ngerti juga. Nanyanya gini, "saya ada di samping sebuah rumah bertingkat dengan cat merah jambu, di dekat pasar, dari sini lewat mana nih ke tempat kamu?" Yaelah Bu'..Bu'..Menekulihat ibu..Singkat cerita, setelah dua ratusan kali beliau nelpon, akhirnya beliau lihat deh sebuah mesjid berjudul "Mesjid Nurul Huda." "Mesjid Nurul Huda itu di sebelah mananya tempat kamu?" "Nah itu mesjid di kantor tempat aku, Ibu." "Oh yaudin, dah nyampe nih." Phew, akhirnya sampe deh beliau.
Jeng jeng..
Masuklah beliau ke ruangan tempat gue nebeng KKNP. Pas masuk, dia dah nyengar-nyengir gitu sambil nyalamin semua pegawai yang ada di ruangan. Nah, dari sinilah tema note ini berasal. Beliau kemudian langsung bertemu dengan supervisor pendamping gue, Pak Rahman namanya. Pak Rahman tuh orangnya bae' banget deh. Kebangetan bae'nya. Pegawai-pegawai di Marine Region VII ini juga semuanya bae'-bae' banget. Gue sampai segan gitu ama mereka. Tapi karena hospitality dan warmness mereka, gue jadi ga canggung deh. Okay, kembali ke soal dosen pendamping gue yang dalam langkah-langkahnya bertemu dengan Pak Rahman. Mereka kemudian berjabatan tangan saling memperkenalkan diri. Terus mereka ngobrol tentang kegiatan KKNP, hal-hal yang gue kerjakan di sini, and so forth.
Selama obrolan singkat mereka itu, si Mbah Dosen ga berhenti sedetik pun menyunggingkan cengirannya. Gue yang tadinya seneng beliau datang menjenguk, jadi takut ama beliau. Takutnya kalau-kalau di detik selanjutnya sepasang taring yang tajam keluar dari sela-sela giginya, terus ngegigit Pak Rahman, terus Pak Rahman-nya ditelen kotak-kotak (soalnya klo ditelen bulat-bulat sudah biasa, jadi kali ini ditelen kotak-kotak. Besok-besok ditelen trapesium-trapesium), terus si Mbah Dosen keselek, terus semua orang pada kaget dan kerubutin beliau. Terus gue kabur. Terus gue mendengar suara adek gue, "Bangun ga lu! Gue sirem nih! Gue sirem nih!" Thanks God, ternyata semua itu hanya mimpi. Eh, tapi beneran Mbah Dosen tadi datang lho.
Nah, itu dia. Soal cengiran itu, gue jadi wonder aja, klo gue perhatikan nih yah, orang Indonesia seneng banget nyengar-nyengir. Entah itu kalau ketemu face-to-face, atau kalau dimarahin/ditegur, dipuji. Gue paling heran klo itu tuh, ketemu face-to-face kaya' pertemuan Si Mbah Dosen Pendamping, ama supervisor pendamping gue, kok gue jadi bingung mengidentifikasi peristiwa itu sebagai apa yah, pasti deh nyengar-nyengir. In my very own opinion, it would look a lot better if you only put a sweet smile on your face really. No offense.
Jadi ceritanya tadi itu dosen pendamping gue untuk kegiatan Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKNP) datang ke tempat KKNP gue. Just for your record, gue KKNP di Pertamina Unit Pemasaran IV, di fungsi Marine Region VII. Sebelum sampai di tempat gue, beliau nelpon berkali-kali nanya letak kantornya di mana. Berkali-kali juga gue jelasin jalan menuju ke kantor, tapi ga tau kenapa beliau kagak ngerti juga. Nanyanya gini, "saya ada di samping sebuah rumah bertingkat dengan cat merah jambu, di dekat pasar, dari sini lewat mana nih ke tempat kamu?" Yaelah Bu'..Bu'..Menekulihat ibu..Singkat cerita, setelah dua ratusan kali beliau nelpon, akhirnya beliau lihat deh sebuah mesjid berjudul "Mesjid Nurul Huda." "Mesjid Nurul Huda itu di sebelah mananya tempat kamu?" "Nah itu mesjid di kantor tempat aku, Ibu." "Oh yaudin, dah nyampe nih." Phew, akhirnya sampe deh beliau.
Jeng jeng..
Masuklah beliau ke ruangan tempat gue nebeng KKNP. Pas masuk, dia dah nyengar-nyengir gitu sambil nyalamin semua pegawai yang ada di ruangan. Nah, dari sinilah tema note ini berasal. Beliau kemudian langsung bertemu dengan supervisor pendamping gue, Pak Rahman namanya. Pak Rahman tuh orangnya bae' banget deh. Kebangetan bae'nya. Pegawai-pegawai di Marine Region VII ini juga semuanya bae'-bae' banget. Gue sampai segan gitu ama mereka. Tapi karena hospitality dan warmness mereka, gue jadi ga canggung deh. Okay, kembali ke soal dosen pendamping gue yang dalam langkah-langkahnya bertemu dengan Pak Rahman. Mereka kemudian berjabatan tangan saling memperkenalkan diri. Terus mereka ngobrol tentang kegiatan KKNP, hal-hal yang gue kerjakan di sini, and so forth.
Selama obrolan singkat mereka itu, si Mbah Dosen ga berhenti sedetik pun menyunggingkan cengirannya. Gue yang tadinya seneng beliau datang menjenguk, jadi takut ama beliau. Takutnya kalau-kalau di detik selanjutnya sepasang taring yang tajam keluar dari sela-sela giginya, terus ngegigit Pak Rahman, terus Pak Rahman-nya ditelen kotak-kotak (soalnya klo ditelen bulat-bulat sudah biasa, jadi kali ini ditelen kotak-kotak. Besok-besok ditelen trapesium-trapesium), terus si Mbah Dosen keselek, terus semua orang pada kaget dan kerubutin beliau. Terus gue kabur. Terus gue mendengar suara adek gue, "Bangun ga lu! Gue sirem nih! Gue sirem nih!" Thanks God, ternyata semua itu hanya mimpi. Eh, tapi beneran Mbah Dosen tadi datang lho.
Nah, itu dia. Soal cengiran itu, gue jadi wonder aja, klo gue perhatikan nih yah, orang Indonesia seneng banget nyengar-nyengir. Entah itu kalau ketemu face-to-face, atau kalau dimarahin/ditegur, dipuji. Gue paling heran klo itu tuh, ketemu face-to-face kaya' pertemuan Si Mbah Dosen Pendamping, ama supervisor pendamping gue, kok gue jadi bingung mengidentifikasi peristiwa itu sebagai apa yah, pasti deh nyengar-nyengir. In my very own opinion, it would look a lot better if you only put a sweet smile on your face really. No offense.
Friends Never Forget
I think of my women friends as a raft we make with our arms.
We are out there in the middle of some great scary body of water,
forearm to forearm, hand to elbow, holding tight.
Sometimes I am part of the raft,
joining up with others to provide safe harbour;
Other times I need to climb abroad myself,
until the storms subside and I can see my way clear to swim to shore.
The raft drifts apart when it's not needed, but never disbands, never forgets.
We are out there in the middle of some great scary body of water,
forearm to forearm, hand to elbow, holding tight.
Sometimes I am part of the raft,
joining up with others to provide safe harbour;
Other times I need to climb abroad myself,
until the storms subside and I can see my way clear to swim to shore.
The raft drifts apart when it's not needed, but never disbands, never forgets.
Subscribe to:
Posts (Atom)
