May 18, 2011

Sepenggal Kisah tentang Gadis Kecil Itu

Gadis kecil itu tersenyum padaku setiap sebelum dia tidur, selalu.
Ketika terbangun, dia menyajikan kepadaku sepasang tatapan lembutnya.
Kedua mata teduh bak air tanpa riak.
Bagai Romeo dan Juliet dengan senyum menawannya.
Atau mungkin lebih tepatnya "seringai", karena dia suka sekali mnyeringai sebagai penutup tawa merdunya.
Sepasang mata teduh itupun tak pernah lelah menyedekahkan teduhnya padaku.


Sepanjang hari dia menghiburku dengan guyon segarnya.
Kadang aku tak begitu mengerti guyonannya.
Aku tak peduli, aku tenggelam dalam suara altonya yang serak.
Kutahu dia ingin sekali menanyakan kepadaku, bosankah aku padanya? Pada berbagai cerita dan guyonannya?
Aku tak menyangkal; ya, kadang aku bosan.
Tetapi pada sebagian besar detik yang berlalu aku merindukannya.
Bahkan ketika dia berada di hadapanku pun aku merindukannya.
Terlebih ketika dia berada di belakangku.
Aku selalu merindukan "Romeo dan Juliet"-nya; sepasang mata teduh dan senyum menawannya.


Dia seperti seseorang dari semesta lain bagiku.
Dia memiliki segala hal yang tak pernah ada di dalam semestaku.
Semua hal yang telah ku sebutkan di atas, dipadu dengan ketenangan dan keberaniannya.
Kuharap deskripsi tentangnya itu cukup.
Mungkin benar; dia datang dari semesta yang lain.


Aku sungguh menyukai gadis kecil itu.
Terutama sepasang mata teduhnya.
Ya, aku sangat menyukai matanya.
Oleh sebab itulah aku menghabiskan sedikit lebih banyak waktu pada matanya yang keteduhannya seperti tak pernah habis dia sedekahkan padaku.


Pernah sekali waktu aku menemukan sesuatu yang lain dari sana;
Aku menemukan seberkas perih luka di dalamnya, di antara "Romeo dan Juliet-nya."
Dengan sabar aku mencoba menyelidikinya.
Aku sangat ingin menanyakan hal ini kepadanya,
Tetapi aku mungkin akan melukainya.
Aku tak ingin itu terjadi.
Telah ku katakan aku menyukainya, bukan.
Dan aku tak akan membiarkan dia terluka,
Bahkan tak setitikpun oleh duri.
Mungkin aku mulai menyayanginya.
Tetapi aku tak punya cukup keberanian untuk mengakuinya.
Bahkan kepada diriku sendiripun.
Kuharap dia sudi bersedekah secuil keberanian padaku,
Selain keteduhan dari matanya itu.