March 02, 2011

Sepatah Dua Patah Kata pada Titik-Titik Terakhir

Assalamu 'alaikuum.

Hiya my blog! It's been a long long time since we last met.
Gue mau cerita soal perjuangan gue a couple of weeks ago.
Skripsi gue sudah kelar. Tinggal menunggu Pembimbing II untuk memberikan kritikan dan perbaikan (bila ada) dan tentunya ACC. Well, I've been waiting long enough for that really. Susah banget untuk bisa ketemu dengan beliau, dua minggu lalu beliau ke luar kota, hari Selasa lalu baru balik. I started losing grip. Setelah telepon dan SMS gue yang ga pernah diangkat dan dibales, akhirnya gue dapet kabar bahwa hari Kamis beliau akan ke kampus lagi. Phew. Thanks God.


Sebenernya beliau adalah dosen yang bae' dan ramah, beliau ga pernah nyusahin mahasiswanya, cuma kalau lagi sibuk dan faktor "x" lainnya, beliau jadi gitu deh, susah. Afterall, gue akhirnya dah ketemu hari Kamis lalu. Waktu itu gue lari-lari dari depan rektorat menuju kelasnya beliau, takutnya nanti beliau keburu masuk kelas artinya gue harus nunggu dong sampe kuliahnya selesai. Yah syukurnya gue tiba tepat waktu, dan dengan senyum khas nan mempesonanya beliau menerima skripsi gue. Hehehe. Katanya minggu depan inshaALLAH baru dia mau ketemu ama gue lagi, soalnya mau dibaca dulu. Okelah, Pak, take your time. Gue berharap banget semuanya bisa kelar dalam beberapa hari ini (Amien), soalnya hari Jumat minggu depan ada jadwal ujian seminar props ama meja bo'! Huhu.


Gue kok jadi rasa gimanaaaa gitu yah nulis tentang ini di blog ini, by the way.


Yap, cerita tentang sang pembimbing II cukuplah sampe di situ dulu. Sekarang cerita tentang sang pembimbing I yuk! Pembimbing I gue itu seorang dosen yang amat senior. Beliau adalah seorang yang sangat bijak, tegas, dan cerdas. Karena kebijaksanaan dan ketegasannya pula beliau menjadi dosen yang terpandang dan cukup disegani oleh dosen-dosen lainnya. Gue kenal beliau sejak semester satu dulu. Waktu itu beliau ngajar mata kuliah umum, Bahasa Inggris. Dulu tuh gue kira beliau itu dokter, ternyata dosen di jurusan gue. Huehehe. Di kelasnya beliau itu gue cukup aktip ngomong. Bukan aktip ngomong ama temen lho ya. Hehehe. Dari situ gue ama beliau mulai akrab.


Gue seneng aja diskusi sama beliau di kantor jurusan (kantor jurusan gue itu lumayan nyaman untuk nangkring bagi gue), atau setelah kelas. Jalan pikiran dan pola disiplinnya yang menurut gue "so English" sangat menarik. Gue setuju banget dengan penerapan memberikan award dari pada punishment kepada anak didiknya. Tetapi karena inilah, kebanyakan mahasiswanya malah berlaku seenak jidat di kelas beliau. Mereka dengan santainya dengerin lagu dari earphone yang dipasang sedemikian rupa jadi ga keliatan dari depan, atau bahkan online atau maen game di lappy masing-masing. Tidak jarang pula ada yang tidur aja gitu di bangku belakang. Dengan menceritakan perilaku mereka, bukannya gue bilang gue menjadi mahasiswi "yang paling sempurna" ya. Gue juga sering merasa lelah, ngantuk, dan bosan kok. Makanya gue duduk di depan, biar bisa menyimaknya dengan lebih baik jadi kan semua rasa itu teralihkan. Gue kok jadi kedengeran tua banget, by the way.


Pernah sekali waktu, dalam kelas Telaah Pranata Inggris, sebagian besar mahasiswa termasuk gue, merasa amat lelah dan mengantuk. Beberapa mahasiswa mulai mengobrol, online, bahkan tidur. Gue dan teman-teman yang duduk di barisan paling depan pun ga bisa menghindar dari lelah dan ngantuk. Gue bahkan sempet tertidur dalam posisi menunduk seperti sedang membaca materinya. Sengaja ambil posisi gitu sih. Hahaha. Eh iya, ini pengalaman paling pertama gue tidur di dalam kelas. Pengalaman kedua, ketiga, dan keempat adalah pada kelas Tata Bahasa Sistemik yang disajikan oleh salah satu profesor gaek. Emang buset deh gue. Kembali ke kejadian dalam kelas Telaah Pranata Inggris itu, gue sempet mikir, kok tumben beliau ga negur atau mencoba berinteraksi dengan satu atau dua mahasiswa untuk menggiring kami kembali ke alam sadar dan ke materinya? Dan ternyata di akhir perkuliahan itu, dengan senyum khas kebapakannya, beliau lalu bilang, "okay class, I have a very interesting announcement for you, read these whole today's materials, including preface, for we'll have a quiz next meeting. Kuisnya akan berupa kuis lisan dengan urutan acak. Okay, see you!" Dan kami semua pun hanya bisa bengong. Semuanya pada bertanya dalam hati, "kuisnya lisan? buset!" Hahaha. Pada pertemuan selanjutnya (dua hari kemudian lho ini) beliau beneran ngasih kuis, tapi ga lisan. Gue bisa menebak, pertemuan sebelumnya itu ternyata beliau cuma mau memberikan "kejutan" buat kami yang ga memperhatikan dengan cara memberikan shock therapy untuk membaca materi yang lumayan banyak dan berat itu yang akan diujikan secara lisan dengan urutan yang acak pula. Geli banget melihat ekspresi yang bermacam-macam berhamburan di dalam kelas pada saat itu. Gue juga bisa melihat semnyum geli yang muncul di wajahnya. Gue jadi tambah ngefans ama beliau.


Okay, itulah sedikit cerita tentang pembimbing I gue. Sekarang ayo kita loncat ke saat-saat penyusunan skripsi. Rentang waktu dari ujian props sampai skripsi ini jadi memakan waktu yang cukup panjang. Selain karena pada semester VII lalu gue masih ada dua mata kuliah terakhir, bidang skripsi gue juga melenceng ke sosiologi sastra sementara gue selama ini berkonsentrasi di bidang English Linguistics. This means gue harus membaca dan belajar tentang sosiologi dan kaitannya dengan kesusasteraan, bidang yang selama ini belum pernah gue sentuh. Sempet mumet juga otak ini belajar dari titik nol koma nol lagi. Tapi mau gimana lagi, demi anak. Lho?


Yaks, jadi selama kurang lebih tiga bulan dari ujian props hidup gue cuma terisi dengan membaca dan belajar tentang sosiologi sastra. Kemudian, pada bulan Januari 2011, gue pun mulai melanjutkan menyusun analisis skripsi gue. Sebanyak tiga sampai empat kali seminggu gue ketemu ama pembimbing I untuk konsul setiap perkembangan yang ada. Pada setiap pertemuan itu gue kebanyakan bertanya dan meminta bantuan penjelasan atas materi-materi sosiologi sastra yang baru gue pelajari itu. Kita juga saling bertukar materi yang didapatkan. Beberapa materi yang gue dapatkan dari hasil research sendiri bahkan katanya merupakan materi yang baru juga buat beliau. Jadinya kita pun mempelajari materi-materi baru itu bersama-sama. Romantis kan? Hahaha.


Beliau sering sekali memberikan berbagai macam masukan materi yang ditulis tangan langsung lho olehnya di dalam beberapa lembar kertas. Kadang gue iseng menjumlah-jumlahkan hasil yang gue dapatkan dari beliau dibandingkan dengan hasil kerja gue sendiri. Bisa dibilang hasil kerja gue tak sebanding banyaknya dengan hasil kerja yang telah beliau sumbangkan dalam skripsi gue itu. Belom lagi ditambah dengan kesabarannya yang teramat sangat menghadapi segala ketidaktahuan, kemalasan, dan kedodolan gue. Semua itu dibingkai dengan ikhlas dan senyum tulus darinya yang tak terhingga. Dan semua hal ini membuat gue menjadi merasa berutang nyawa padanya. Ya, lebih dari sekedar berutang budi. Tanpa beliau, skripsi gue ga bakalan bisa kelar. Hingga setelah jungkir balik belajar dan terseok-seok menyusun, skripsi ini pun akhirnya kelar.


Satu hal yang menarik menurut gue adalah ketika pada titik-titik terakhir penyusunan skripsi, gue merasakan satu sedih yang tipis. Gue ga berusaha untuk jaim dengan mengkategorikan rasa sedih yang saat itu muncul ke dalam level "tipis", tapi emang "tipis" aja. Ini ga lebih, maupun ga kurang. Bagi kebanyakan orang kesedihan itu diilhami oleh kenangan-kenangan yang dialami bersama rekan-rekan yang sejurusan, sefakultas, se-UKM bareng, juga ada kisah kasih yang terungkap maupun yang ga terungkap, dan berbagai hal lainnya. Sayangnya bagi gue, ga banyak yang berhasil menjadi ilham bagi kesedihan pada titik akhir itu. Namun begitu, tetep aja kan gue mampu mendapatkan pengalaman sedih itu. Mengapa hal ini menarik bagi gue? Karena ini merupakan sebuah kejutan yang ga pernah gue duga. Beberapa senior yang telah lulus pernah memberitahukan tentang "surprise kecil" ini, tapi gue ga nyangka bakal mendapatkan "surprise kecil" itu juga. Selama tiga tahun lebih menuntut ilmu di kampus gue pikir pasti senang banget ketika lulus nanti, ternyata oh ternyata surprise kecil itu beneran ada.