August 11, 2010

Because You Can Never Turn Back the Time

Gue beberapa minggu ini nulis artikel untuk tiga NGOs di kota "X". Salah satu NGO tersebut menolong minority ethnic disabled people untuk kualitas hidup yang lebih baik dengan cara memudahkan akses- akses pendidikan, employment, social welfare, health leisure, recreational and cultural opportunities. Gue nulis tentang negara gue, lebih spesifik lagi tentang lingkungan sekitar gue. Awalnya karena email- emailan dengan teman yang di sana, terus dia minta izin nge-print email gue untuk artikel gitu, soalnya "baru" gitu katanya. Gue menuliskan apa adanya. Gue sama sekali ga mengedit apapun dari mata, telinga, dan otak gue. Dan itulah yang mereka suka. Katanya tulisan gue "naked" banget, "pure" gitu. Gue emang nulis purely soalnya gue suka yang "naked- naked". Hahaha :p



Wokey, enough for the writing part time-job stuff.
Gue sebenarnya mau curhat, but first, does it have to be censored first?
NO GO!



Ayahku adalah seorang yang sangat strict. Beliau mengajarkan tentang aturan- aturan dan norma- norma. Sejak kecil, Papa ( begitu gue memanggil beliau ) memberikanku segudang aturan dan norma yang harus gue patuhi. Beliau memberikan "hukuman" ketika gue tidak mematuhi dan melanggarnya. "Hukuman" tersebut bisa aja hanya berupa "nasehat", kadang juga kalau gue udah kelewat batas, beliau menyuruh gue pergi tidur. Honestly, gue ga terlalu suka "hukuman" semacam menyuruh pergi tidur, sebel aja. Tetapi itu lebih baik ketimbang cambukan jangka besi milik ibu guru sewaktu SD dulu. Kadang gue bertanya- tanya, mengapa mereka tega menyakiti fisik anak- anak dan anak didik mereka? Gue telah mendapatkan jawabannya, bahwa dengan begitu anak- anak dan anak didik mereka akan jauh menghargai aturan dan norma. Dan tentu saja akan menghargai hidup mereka. Sekian soal hukuman- hukuman. Gue ga begitu suka menghukum, ga berperikemanusiaan. Tetapi ada hal lain yang lebih ga berperikemanusiaan, gue akan ceritakan pada note ini.



Sedikit hal tentang Papa.
Papa seorang yang saaaaaangat sangat pintar, brilliant, intellect, and so forth and so forth. Mengapa gue begitu yakin dan PD menuliskan semua karakteristik- karakteristik tersebut? Karena setiap hal yang gue tanyakan pada Papa, selalu dijawab dengan cepat, lugas, dan brilliant. Papa sangat jarang menjawab "pas". You know "pas"? Ketika main kuis, dan kamu ga bisa jawab, maka kamu mengatakan "pas". Papa jarang menjawab "pas". Seingat gue, in my entire lfe, belum lebih dari sepuluh kali. Gue serius menghitungnya, soalnya bagi gue hal tersebut merupakan hal yang luar biasa. Mama mengimbangi Papa. Mama menjawab pertanyaan- pertanyaan gue dengan "rasa keibuannya". Maksudnya kadang hal- hal "abnormal" yang gue tanyakan dijawab dengan "diplomatis" dan sangat "keibuan". Dua manusia yang bagaikan air dan api, yang sangat gue kagumi, menyatu dalam gue.




Salah satu aturan yang Papa ajarkan adalah tentang menghargai waktu. Gue seorang muslimah. Satu perintah wajib kami adalah shalat lima waktu. Masing- masing memiliki waktunya. Kami diwajibkan untuk menunaikannya setiap waktunya tiba, jika telah lewat waktunya, maka lewatlah shalatnya. Though Allah memberikan kami toleransi "menggabungkan" shalat yang tertinggal dengan shalat yang berikutnya kecuali shalat Subuh. Hal lain tentang waktu adalah pada saat bulan Ramadhan. Dua waktu penting pada bulan Ramadhan yaitu Subuh dan Maghrib. Waktu Subuh ditandai dengan masuknya Fajar, pada saat itu pulalah puasa dimulai. Waktu Maghrib ditandai dengan terbenamnya matahari, pada saat itulah kami berbuka. Jika kami bermain- main pada dua waktu tersebut, maka makruhlah puasa kami. Gue ga berbicara begitu banyak soal agama, gue bukan manusia sempurna, ga ada manusia yang sempurna anyway. Gue cuma mau menekankan bahwa begitulah agama gue, Islam, mengajarkan betapa kita harus sangat menghargai waktu ( dengan segala toleransinya ).



Sejak kecil gue selalu berusaha semampu gue untuk menghargai waktu. Ketika gue telat, gue merasa sangat sangat berlumur dosa. Papa mengajarkan untuk membuat timetable dan skala prioritas. Di dalam timetable tersebut gue harus menuliskan waktu mulai dan berakhirnya setiap kegiatan dalam sehari hidup gue. Dengan begitu sangat minim waktu yang gue buang. Benar saja kata di dalam bahasa Inggris, "to spend" dan "TO WASTE" itu sangatlah berbeda. Papa memberikan toleransi, ketika semua hal SANGAT PENTING dalam sehari hidup gue telah gue lakukan, gue boleh "WASTE" a wee bit time of mine. Dalam hal ini Papa mengajarkan pentingnya menghargai waktu yang diberikan orang lain. Waktu yang diberikan orang lain tersebut juga dilabel dengan label "SANGAT PENTING."



Papa mengajarkan pentingnya menegakkan aturan dan norma tanpa pandang bulu, tanpa "ngaret" tentunya. Mama mengajarkan pentingnya memberi maaf pada ke-"ngaret"-an yang terjadi. Tetapi setiap gue memberikan maaf untuk ke-ngaret"-an yang terjadi, gue kecewa. So I can barely forgive anyone yang melanggar aturan. Tidak menghargai waktu merupakan hal yang lebih tidak berperikemanusiaan selain memberikan hukuman fisik pada anak- anak dan anak didik. People say me arrogant, no I am not. I am STRICT.



Papa dan Mama mengajarkan pentingnya menghargai waktu, mematuhi timetable, membuat skala prioritas, memberikan sangat sedikit toleransi, mengapa?
BECAUSE YOU CAN NEVER TURN BACK THE TIME.

August 09, 2010

Kebiasaan "Tertawa-tawa" Orang Indonesia

Yak, kali ini gue mau nulis sedikit tentang hal yang gua alamin tadi siang.
Jadi ceritanya tadi itu dosen pendamping gue untuk kegiatan Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKNP) datang ke tempat KKNP gue. Just for your record, gue KKNP di Pertamina Unit Pemasaran IV, di fungsi Marine Region VII. Sebelum sampai di tempat gue, beliau nelpon berkali-kali nanya letak kantornya di mana. Berkali-kali juga gue jelasin jalan menuju ke kantor, tapi ga tau kenapa beliau kagak ngerti juga. Nanyanya gini, "saya ada di samping sebuah rumah bertingkat dengan cat merah jambu, di dekat pasar, dari sini lewat mana nih ke tempat kamu?" Yaelah Bu'..Bu'..Menekulihat ibu..Singkat cerita, setelah dua ratusan kali beliau nelpon, akhirnya beliau lihat deh sebuah mesjid berjudul "Mesjid Nurul Huda." "Mesjid Nurul Huda itu di sebelah mananya tempat kamu?" "Nah itu mesjid di kantor tempat aku, Ibu." "Oh yaudin, dah nyampe nih." Phew, akhirnya sampe deh beliau.


Jeng jeng..
Masuklah beliau ke ruangan tempat gue nebeng KKNP. Pas masuk, dia dah nyengar-nyengir gitu sambil nyalamin semua pegawai yang ada di ruangan. Nah, dari sinilah tema note ini berasal. Beliau kemudian langsung bertemu dengan supervisor pendamping gue, Pak Rahman namanya. Pak Rahman tuh orangnya bae' banget deh. Kebangetan bae'nya. Pegawai-pegawai di Marine Region VII ini juga semuanya bae'-bae' banget. Gue sampai segan gitu ama mereka. Tapi karena hospitality dan warmness mereka, gue jadi ga canggung deh. Okay, kembali ke soal dosen pendamping gue yang dalam langkah-langkahnya bertemu dengan Pak Rahman. Mereka kemudian berjabatan tangan saling memperkenalkan diri. Terus mereka ngobrol tentang kegiatan KKNP, hal-hal yang gue kerjakan di sini, and so forth.


Selama obrolan singkat mereka itu, si Mbah Dosen ga berhenti sedetik pun menyunggingkan cengirannya. Gue yang tadinya seneng beliau datang menjenguk, jadi takut ama beliau. Takutnya kalau-kalau di detik selanjutnya sepasang taring yang tajam keluar dari sela-sela giginya, terus ngegigit Pak Rahman, terus Pak Rahman-nya ditelen kotak-kotak (soalnya klo ditelen bulat-bulat sudah biasa, jadi kali ini ditelen kotak-kotak. Besok-besok ditelen trapesium-trapesium), terus si Mbah Dosen keselek, terus semua orang pada kaget dan kerubutin beliau. Terus gue kabur. Terus gue mendengar suara adek gue, "Bangun ga lu! Gue sirem nih! Gue sirem nih!" Thanks God, ternyata semua itu hanya mimpi. Eh, tapi beneran Mbah Dosen tadi datang lho.


Nah, itu dia. Soal cengiran itu, gue jadi wonder aja, klo gue perhatikan nih yah, orang Indonesia seneng banget nyengar-nyengir. Entah itu kalau ketemu face-to-face, atau kalau dimarahin/ditegur, dipuji. Gue paling heran klo itu tuh, ketemu face-to-face kaya' pertemuan Si Mbah Dosen Pendamping, ama supervisor pendamping gue, kok gue jadi bingung mengidentifikasi peristiwa itu sebagai apa yah, pasti deh nyengar-nyengir. In my very own opinion, it would look a lot better if you only put a sweet smile on your face really. No offense.

Friends Never Forget

I think of my women friends as a raft we make with our arms.

We are out there in the middle of some great scary body of water,

forearm to forearm, hand to elbow, holding tight.

Sometimes I am part of the raft,

joining up with others to provide safe harbour;

Other times I need to climb abroad myself,

until the storms subside and I can see my way clear to swim to shore.

The raft drifts apart when it's not needed, but never disbands, never forgets.

July 30, 2010

Skripsi Itu...

Pada postingan sebelumnya gue bercerita tentang awal skripsi gue. Nah sekarang gue akan bercerita tentang kata-kata pertama gue di dalam skripsi itu. Salah satu tahapan dari skripsi adalah seminar proposal. Pada tahapan ini diwajibkan untuk membuat proposal tentang apa yang akan ditulis di dalam skripsi, masalah apa yang ditemukan, metode-metode yang dipakai dalam memecahkan masalah itu, dan yang paling penting adalah alasan mengangkat topik tersebut.


Sekarang gue lagi duduk melototin layar komputer ini. Tadinya gue mau nulis banyak, tetapi tiba-tiba gue blank. Gue teringat seseorang. Gue mau cerita, tapi pasti jadinya OOT deh, alias Out of Topic gitu. Hehehe. Gue akan cerita tentang dia nanti yah. Keep it on the track!


Skripsi itu bagi gue seperti meraba-raba di dalam gelap. Gue tahu sih apa yang gue cari, tapi gue ga tau di mana, dan gue belum memiliki alat yang dapat membantu gue menemukan benda yang gue cari itu. Itulah rasa pertama yang gue rasakan ketika pertama kali menyentuh komputer dengan niat menulis proposal skripsi. Hal berikutnya yang gue alami setelah beberapa langkah memulai adalah gue mulai menemukan alat-alat yang mempermudah jalan gue. Gue menemukan sebuah pola di dinding. Pola tersebut semacam garis yang menonjol di dinding yang gue raba sepanjang perjalanan gelap gue. Selanjutnya gue menemukan senter, kemudian beberapa senter lagi. Hingga ketika berhadapan dengan penguji di ujian seminar proposal, mereka menyarankan gue untuk menyorot dinding itu menggunakan senter yang gue miliki. Gue pun melihat pola yang tadinya hanya bisa gue rasakan dengan sentuhan tangan.


Selain pembimbing dan penguji, gue juga sangat berterima kasih kepada teman-teman gue yang juga memberikan gue baterai untuk senter gue. Di dalam proses diskusi dengan pembimbing, penguji, dan teman-teman gue, gue merasakan kehangatan dari mereka. Yang pada awalnya skripsi itu seperti momok yang menakutkan dan menguras banyak sekali pikiran dan tenaga, kini menjadi lem yang merekatkan. Setelah berdiskusi dengan pembimbing, penguji, dan teman-teman, gue semakin mencintai skripsi gue. Ternyata skripsi itu adalah kendaraan gue bersilaturahmi dengan orang-orang di sekitar gue.

July 29, 2010

Skripsi

Hiya mates! How's it going?
I'm suffering from a bad cough, and thanks God the rest is all right.
Sekarang gue mau cerita tentang perjalanan awal gue menulis skripsi. Basically gue menulis tentang peranan aktor di dalam sebuah puisi. Gue memilih puisi "When I Heard the Learn'd Astronomer" karya Walt Whitman. Awalnya gue memilih puisi karya Robert Frost yang berjudul "The Road not Taken", tetapi dosen pengajar gue di mata kuliah Seminar Praskripsi menyarankan untuk memilih puisi lain karena puisi tersebut too popular, telah banyak yang membahas tentang puisi tersebut. Maka gue memilih puisi Opa Whitman aja, yang temanya masih mirip ama The Road not Taken.


Gue memilih puisi beraliran Realisme tersebut karena gue suka ama temanya yang bercerita tentang pilihan hidup. Ini sesuai banget dengan diri gue. Pada beberapa moment di dalam hidup gue, gue tertempatkan di titik tengah di antara dua pilihan yang amat sulit. Sewaktu gue mendapatkan kesempatan mengikuti program volunteering di Glasgow, Scotland, saat itu bulan Maret 2006, sedangkan pada bulan April akan diadakan Ujian Akhir Nasional, maka gue harus memilih antara program tersebut atau Ujian Akhir Nasional. Gue pun berdiskusi dengan orang tua dan guru-guru gue di sekolah. Mereka menyarankan untuk tetap mengikuti program tersebut karena kesempatan tesebut belum tentu datang dua kali. Okay, jadi gue berangkat deh, meninggalkan sekolah gue yang tinggal sebulan lagi.


Moment yang kedua yaitu ketika gue harus memilih antara Briton dan kuliah gue. Seperti yang gue ceritakan di postingan sebelumnya, gue mendapatkan kesempatan kuliah di Sastra Inggris itu gak mudah lho. Tetapi ketika mendapatkan kesempatan kerja di Briton, gue senpat berpikir juga sih. Maka gue kembali berdiskusi dengan orang tua. Setelah mendengarkan plus-minus dari kedua hal tersebut, maka gue memutuskan untuk memfokuskan waktu gue pada kuliah. Gue lepas deh Briton.


Gue selalu mendiskusikan apapun tentang pilihan dengan orang tua gue. Mereka sih memberikan gue hak penuh untuk memutuskan apapun yang menyangkut kehidupan pribadi gue, mereka hanya memberikan pandangan-pandangan tentang plus-minus dari setiap pilihan yang ada. Kata mereka, kehidupan pribadi gue yang jalanin, bukan mereka, maka gue lah yang berhak sekaligus bertanggung jawab penuh dalam setiap keputusan yang gue buat. Mereka hanya ga mau melihat anak-anaknya membuat keputusan yang akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Mereka selalu mengingatkan bahwa setiap keputusan yang diambil haruslah dipertanggungjawabkan sepenuhnya, dan untuk tidak menyesali keputusan yang telah diambil tersebut.


Seperti itulah tema dari puisi yang gue ambil sebagai skripsi gue. Tentang pilihan hidup. Tentang pentingnya kita memikirkan dan memutuskan secara bijak setiap pilihan dalam hidup kita masing-masing agar ga ada penyesalan di kemudian hari.

Baru Baru Baru..Cihuy!

Hey!
How are you doing, my blog?
It's been ages and ages!
Lama banget baru main ke sini lagi. Sudah berapa lama yah? Kira-kira sudah tujuh puluh tahun kali yah? Well well well, right right right, mari kita menulis lagi!


Okay then, here you go.
Bulan berapa sih sekarang? Oh iya, sudah bulan Juli 2010! Ga terasa, kemarin sewaktu nulis "Second" masih bulan Maret 2009, sekarang sudah bulan Juli 2010. Gue pun menyadari bahwa gue semakin dekat dengan liang lahat. Yes, you're right reading that "liang lahat." Bukankah semakin bertambahnya usia kita sesungguhnya berarti semakin dekat kita dengan liang lahat? So, let's be thankful for everything you've got in your entire life!


Gue mau nulis apa yah? Gue juga bingung. Postingan terakhir gue tentang lamaran kerja gue ke Briton. Gue tuntasin di sini aja deh. Sebenarnya sih mau nulis dalam beberapa part gitu, tetapi keburu basi. Hehe. Jadi ceritanya gue diterima kerja di Briton. Briton itu merupakan tempat kursus bahasa Inggris terbesar di kota gue, Makassar. Briton bahkan merupakan tempat kursus bahasa Inggris terbesar di seluruh Indonesia bagian Timur. Jadi gue bangga dong diterima kerja sebagai English Tutor di sana. Tapi gue ga lama di sana, cuma sekitar empat bulan gitu soalnya waktu itu bertepatan dengan masuknya gue di Universitas Hasanuddin sebagai mahasiswi baru. Di Briton menginginkan kerja full-time, sedangkan kuliah gue waktu itu lagi padat-padatnya soalnya kan semester awal, dan bijaknya gue resign aja dari Briton.


Gue lebih memilih kuliah gue. Ga gampang lho masuknya. Waktu itu papa menyuruh gue masuk Fakultas Kedokteran, tetapi karena hati gue adanya di English Linguistics maka gue bersikeras dong masuk ke Sastra Inggris. Sejak gue kecil gue jatuh cinta banget dengan English Linguistics dan English culture. Di samping itu, gue juga suka banget membaca karya-karya sastra, jadi pas banget kan gue nyemplung di Sastra Inggris. Singkat cerita, setelah perdebatan panjang dengan papa, thank God gue akhirnya masuk deh di Sastra Inggris. Jadi tentunya gue menjalankannya dengan segenap jiwa. Cailah.


Okay, cukup ga tuh cerita gue tentang Briton? Cukup kan.
So let's jumping up onto the next topic!


Gue lagi KKN nih di Pertamina Unit Pemasaran IV, Makassar.. Mulai KKN sejak tanggal 28 Juni 2010 dan akan berakhir tanggal 27 Agustus 2010. Cerita soal KKN, so far so good lah. Pertama masuk gue bingung banget, kurang banget kerjaan yang dikasih. Gue maklum sih, klo kerjaan yang sensitif diberikan ke peserta KKN, terus kerjaan kita ga benar kan bisa berabe. Jadi mereka cuma memberikan kerjaan-kerjaan yang bisa kita kerjakan dengan baik. Tetapi gue mendapatkan pengalaman yang berharga tentang dunia kerja. Minggu ini adalah minggu kelima gue KKN. Tinggal empat minggu lagi, men! Hahaha.


Gue nulis tulisan ini di ruangan gue, di salah satu meja kerja pegawainya. Well, ga ada cerita yang menarik sih selama gue nulis ini. Beberapa cerita gue akan gue tulis di postingan-postingan selanjutnya. Gue nulisnya suka-suka gue aja yah. Blog, blog gue. Ya kan? Hahaha.