Gadis kecil itu tersenyum padaku setiap sebelum dia tidur, selalu.
Ketika terbangun, dia menyajikan kepadaku sepasang tatapan lembutnya.
Kedua mata teduh bak air tanpa riak.
Bagai Romeo dan Juliet dengan senyum menawannya.
Atau mungkin lebih tepatnya "seringai", karena dia suka sekali mnyeringai sebagai penutup tawa merdunya.
Sepasang mata teduh itupun tak pernah lelah menyedekahkan teduhnya padaku.
Sepanjang hari dia menghiburku dengan guyon segarnya.
Kadang aku tak begitu mengerti guyonannya.
Aku tak peduli, aku tenggelam dalam suara altonya yang serak.
Kutahu dia ingin sekali menanyakan kepadaku, bosankah aku padanya? Pada berbagai cerita dan guyonannya?
Aku tak menyangkal; ya, kadang aku bosan.
Tetapi pada sebagian besar detik yang berlalu aku merindukannya.
Bahkan ketika dia berada di hadapanku pun aku merindukannya.
Terlebih ketika dia berada di belakangku.
Aku selalu merindukan "Romeo dan Juliet"-nya; sepasang mata teduh dan senyum menawannya.
Dia seperti seseorang dari semesta lain bagiku.
Dia memiliki segala hal yang tak pernah ada di dalam semestaku.
Semua hal yang telah ku sebutkan di atas, dipadu dengan ketenangan dan keberaniannya.
Kuharap deskripsi tentangnya itu cukup.
Mungkin benar; dia datang dari semesta yang lain.
Aku sungguh menyukai gadis kecil itu.
Terutama sepasang mata teduhnya.
Ya, aku sangat menyukai matanya.
Oleh sebab itulah aku menghabiskan sedikit lebih banyak waktu pada matanya yang keteduhannya seperti tak pernah habis dia sedekahkan padaku.
Pernah sekali waktu aku menemukan sesuatu yang lain dari sana;
Aku menemukan seberkas perih luka di dalamnya, di antara "Romeo dan Juliet-nya."
Dengan sabar aku mencoba menyelidikinya.
Aku sangat ingin menanyakan hal ini kepadanya,
Tetapi aku mungkin akan melukainya.
Aku tak ingin itu terjadi.
Telah ku katakan aku menyukainya, bukan.
Dan aku tak akan membiarkan dia terluka,
Bahkan tak setitikpun oleh duri.
Mungkin aku mulai menyayanginya.
Tetapi aku tak punya cukup keberanian untuk mengakuinya.
Bahkan kepada diriku sendiripun.
Kuharap dia sudi bersedekah secuil keberanian padaku,
Selain keteduhan dari matanya itu.
May 18, 2011
March 02, 2011
Sepatah Dua Patah Kata pada Titik-Titik Terakhir
Assalamu 'alaikuum.
Hiya my blog! It's been a long long time since we last met.
Gue mau cerita soal perjuangan gue a couple of weeks ago.
Skripsi gue sudah kelar. Tinggal menunggu Pembimbing II untuk memberikan kritikan dan perbaikan (bila ada) dan tentunya ACC. Well, I've been waiting long enough for that really. Susah banget untuk bisa ketemu dengan beliau, dua minggu lalu beliau ke luar kota, hari Selasa lalu baru balik. I started losing grip. Setelah telepon dan SMS gue yang ga pernah diangkat dan dibales, akhirnya gue dapet kabar bahwa hari Kamis beliau akan ke kampus lagi. Phew. Thanks God.
Sebenernya beliau adalah dosen yang bae' dan ramah, beliau ga pernah nyusahin mahasiswanya, cuma kalau lagi sibuk dan faktor "x" lainnya, beliau jadi gitu deh, susah. Afterall, gue akhirnya dah ketemu hari Kamis lalu. Waktu itu gue lari-lari dari depan rektorat menuju kelasnya beliau, takutnya nanti beliau keburu masuk kelas artinya gue harus nunggu dong sampe kuliahnya selesai. Yah syukurnya gue tiba tepat waktu, dan dengan senyum khas nan mempesonanya beliau menerima skripsi gue. Hehehe. Katanya minggu depan inshaALLAH baru dia mau ketemu ama gue lagi, soalnya mau dibaca dulu. Okelah, Pak, take your time. Gue berharap banget semuanya bisa kelar dalam beberapa hari ini (Amien), soalnya hari Jumat minggu depan ada jadwal ujian seminar props ama meja bo'! Huhu.
Gue kok jadi rasa gimanaaaa gitu yah nulis tentang ini di blog ini, by the way.
Yap, cerita tentang sang pembimbing II cukuplah sampe di situ dulu. Sekarang cerita tentang sang pembimbing I yuk! Pembimbing I gue itu seorang dosen yang amat senior. Beliau adalah seorang yang sangat bijak, tegas, dan cerdas. Karena kebijaksanaan dan ketegasannya pula beliau menjadi dosen yang terpandang dan cukup disegani oleh dosen-dosen lainnya. Gue kenal beliau sejak semester satu dulu. Waktu itu beliau ngajar mata kuliah umum, Bahasa Inggris. Dulu tuh gue kira beliau itu dokter, ternyata dosen di jurusan gue. Huehehe. Di kelasnya beliau itu gue cukup aktip ngomong. Bukan aktip ngomong ama temen lho ya. Hehehe. Dari situ gue ama beliau mulai akrab.
Gue seneng aja diskusi sama beliau di kantor jurusan (kantor jurusan gue itu lumayan nyaman untuk nangkring bagi gue), atau setelah kelas. Jalan pikiran dan pola disiplinnya yang menurut gue "so English" sangat menarik. Gue setuju banget dengan penerapan memberikan award dari pada punishment kepada anak didiknya. Tetapi karena inilah, kebanyakan mahasiswanya malah berlaku seenak jidat di kelas beliau. Mereka dengan santainya dengerin lagu dari earphone yang dipasang sedemikian rupa jadi ga keliatan dari depan, atau bahkan online atau maen game di lappy masing-masing. Tidak jarang pula ada yang tidur aja gitu di bangku belakang. Dengan menceritakan perilaku mereka, bukannya gue bilang gue menjadi mahasiswi "yang paling sempurna" ya. Gue juga sering merasa lelah, ngantuk, dan bosan kok. Makanya gue duduk di depan, biar bisa menyimaknya dengan lebih baik jadi kan semua rasa itu teralihkan. Gue kok jadi kedengeran tua banget, by the way.
Pernah sekali waktu, dalam kelas Telaah Pranata Inggris, sebagian besar mahasiswa termasuk gue, merasa amat lelah dan mengantuk. Beberapa mahasiswa mulai mengobrol, online, bahkan tidur. Gue dan teman-teman yang duduk di barisan paling depan pun ga bisa menghindar dari lelah dan ngantuk. Gue bahkan sempet tertidur dalam posisi menunduk seperti sedang membaca materinya. Sengaja ambil posisi gitu sih. Hahaha. Eh iya, ini pengalaman paling pertama gue tidur di dalam kelas. Pengalaman kedua, ketiga, dan keempat adalah pada kelas Tata Bahasa Sistemik yang disajikan oleh salah satu profesor gaek. Emang buset deh gue. Kembali ke kejadian dalam kelas Telaah Pranata Inggris itu, gue sempet mikir, kok tumben beliau ga negur atau mencoba berinteraksi dengan satu atau dua mahasiswa untuk menggiring kami kembali ke alam sadar dan ke materinya? Dan ternyata di akhir perkuliahan itu, dengan senyum khas kebapakannya, beliau lalu bilang, "okay class, I have a very interesting announcement for you, read these whole today's materials, including preface, for we'll have a quiz next meeting. Kuisnya akan berupa kuis lisan dengan urutan acak. Okay, see you!" Dan kami semua pun hanya bisa bengong. Semuanya pada bertanya dalam hati, "kuisnya lisan? buset!" Hahaha. Pada pertemuan selanjutnya (dua hari kemudian lho ini) beliau beneran ngasih kuis, tapi ga lisan. Gue bisa menebak, pertemuan sebelumnya itu ternyata beliau cuma mau memberikan "kejutan" buat kami yang ga memperhatikan dengan cara memberikan shock therapy untuk membaca materi yang lumayan banyak dan berat itu yang akan diujikan secara lisan dengan urutan yang acak pula. Geli banget melihat ekspresi yang bermacam-macam berhamburan di dalam kelas pada saat itu. Gue juga bisa melihat semnyum geli yang muncul di wajahnya. Gue jadi tambah ngefans ama beliau.
Okay, itulah sedikit cerita tentang pembimbing I gue. Sekarang ayo kita loncat ke saat-saat penyusunan skripsi. Rentang waktu dari ujian props sampai skripsi ini jadi memakan waktu yang cukup panjang. Selain karena pada semester VII lalu gue masih ada dua mata kuliah terakhir, bidang skripsi gue juga melenceng ke sosiologi sastra sementara gue selama ini berkonsentrasi di bidang English Linguistics. This means gue harus membaca dan belajar tentang sosiologi dan kaitannya dengan kesusasteraan, bidang yang selama ini belum pernah gue sentuh. Sempet mumet juga otak ini belajar dari titik nol koma nol lagi. Tapi mau gimana lagi, demi anak. Lho?
Yaks, jadi selama kurang lebih tiga bulan dari ujian props hidup gue cuma terisi dengan membaca dan belajar tentang sosiologi sastra. Kemudian, pada bulan Januari 2011, gue pun mulai melanjutkan menyusun analisis skripsi gue. Sebanyak tiga sampai empat kali seminggu gue ketemu ama pembimbing I untuk konsul setiap perkembangan yang ada. Pada setiap pertemuan itu gue kebanyakan bertanya dan meminta bantuan penjelasan atas materi-materi sosiologi sastra yang baru gue pelajari itu. Kita juga saling bertukar materi yang didapatkan. Beberapa materi yang gue dapatkan dari hasil research sendiri bahkan katanya merupakan materi yang baru juga buat beliau. Jadinya kita pun mempelajari materi-materi baru itu bersama-sama. Romantis kan? Hahaha.
Beliau sering sekali memberikan berbagai macam masukan materi yang ditulis tangan langsung lho olehnya di dalam beberapa lembar kertas. Kadang gue iseng menjumlah-jumlahkan hasil yang gue dapatkan dari beliau dibandingkan dengan hasil kerja gue sendiri. Bisa dibilang hasil kerja gue tak sebanding banyaknya dengan hasil kerja yang telah beliau sumbangkan dalam skripsi gue itu. Belom lagi ditambah dengan kesabarannya yang teramat sangat menghadapi segala ketidaktahuan, kemalasan, dan kedodolan gue. Semua itu dibingkai dengan ikhlas dan senyum tulus darinya yang tak terhingga. Dan semua hal ini membuat gue menjadi merasa berutang nyawa padanya. Ya, lebih dari sekedar berutang budi. Tanpa beliau, skripsi gue ga bakalan bisa kelar. Hingga setelah jungkir balik belajar dan terseok-seok menyusun, skripsi ini pun akhirnya kelar.
Satu hal yang menarik menurut gue adalah ketika pada titik-titik terakhir penyusunan skripsi, gue merasakan satu sedih yang tipis. Gue ga berusaha untuk jaim dengan mengkategorikan rasa sedih yang saat itu muncul ke dalam level "tipis", tapi emang "tipis" aja. Ini ga lebih, maupun ga kurang. Bagi kebanyakan orang kesedihan itu diilhami oleh kenangan-kenangan yang dialami bersama rekan-rekan yang sejurusan, sefakultas, se-UKM bareng, juga ada kisah kasih yang terungkap maupun yang ga terungkap, dan berbagai hal lainnya. Sayangnya bagi gue, ga banyak yang berhasil menjadi ilham bagi kesedihan pada titik akhir itu. Namun begitu, tetep aja kan gue mampu mendapatkan pengalaman sedih itu. Mengapa hal ini menarik bagi gue? Karena ini merupakan sebuah kejutan yang ga pernah gue duga. Beberapa senior yang telah lulus pernah memberitahukan tentang "surprise kecil" ini, tapi gue ga nyangka bakal mendapatkan "surprise kecil" itu juga. Selama tiga tahun lebih menuntut ilmu di kampus gue pikir pasti senang banget ketika lulus nanti, ternyata oh ternyata surprise kecil itu beneran ada.
Hiya my blog! It's been a long long time since we last met.
Gue mau cerita soal perjuangan gue a couple of weeks ago.
Skripsi gue sudah kelar. Tinggal menunggu Pembimbing II untuk memberikan kritikan dan perbaikan (bila ada) dan tentunya ACC. Well, I've been waiting long enough for that really. Susah banget untuk bisa ketemu dengan beliau, dua minggu lalu beliau ke luar kota, hari Selasa lalu baru balik. I started losing grip. Setelah telepon dan SMS gue yang ga pernah diangkat dan dibales, akhirnya gue dapet kabar bahwa hari Kamis beliau akan ke kampus lagi. Phew. Thanks God.
Sebenernya beliau adalah dosen yang bae' dan ramah, beliau ga pernah nyusahin mahasiswanya, cuma kalau lagi sibuk dan faktor "x" lainnya, beliau jadi gitu deh, susah. Afterall, gue akhirnya dah ketemu hari Kamis lalu. Waktu itu gue lari-lari dari depan rektorat menuju kelasnya beliau, takutnya nanti beliau keburu masuk kelas artinya gue harus nunggu dong sampe kuliahnya selesai. Yah syukurnya gue tiba tepat waktu, dan dengan senyum khas nan mempesonanya beliau menerima skripsi gue. Hehehe. Katanya minggu depan inshaALLAH baru dia mau ketemu ama gue lagi, soalnya mau dibaca dulu. Okelah, Pak, take your time. Gue berharap banget semuanya bisa kelar dalam beberapa hari ini (Amien), soalnya hari Jumat minggu depan ada jadwal ujian seminar props ama meja bo'! Huhu.
Gue kok jadi rasa gimanaaaa gitu yah nulis tentang ini di blog ini, by the way.
Yap, cerita tentang sang pembimbing II cukuplah sampe di situ dulu. Sekarang cerita tentang sang pembimbing I yuk! Pembimbing I gue itu seorang dosen yang amat senior. Beliau adalah seorang yang sangat bijak, tegas, dan cerdas. Karena kebijaksanaan dan ketegasannya pula beliau menjadi dosen yang terpandang dan cukup disegani oleh dosen-dosen lainnya. Gue kenal beliau sejak semester satu dulu. Waktu itu beliau ngajar mata kuliah umum, Bahasa Inggris. Dulu tuh gue kira beliau itu dokter, ternyata dosen di jurusan gue. Huehehe. Di kelasnya beliau itu gue cukup aktip ngomong. Bukan aktip ngomong ama temen lho ya. Hehehe. Dari situ gue ama beliau mulai akrab.
Gue seneng aja diskusi sama beliau di kantor jurusan (kantor jurusan gue itu lumayan nyaman untuk nangkring bagi gue), atau setelah kelas. Jalan pikiran dan pola disiplinnya yang menurut gue "so English" sangat menarik. Gue setuju banget dengan penerapan memberikan award dari pada punishment kepada anak didiknya. Tetapi karena inilah, kebanyakan mahasiswanya malah berlaku seenak jidat di kelas beliau. Mereka dengan santainya dengerin lagu dari earphone yang dipasang sedemikian rupa jadi ga keliatan dari depan, atau bahkan online atau maen game di lappy masing-masing. Tidak jarang pula ada yang tidur aja gitu di bangku belakang. Dengan menceritakan perilaku mereka, bukannya gue bilang gue menjadi mahasiswi "yang paling sempurna" ya. Gue juga sering merasa lelah, ngantuk, dan bosan kok. Makanya gue duduk di depan, biar bisa menyimaknya dengan lebih baik jadi kan semua rasa itu teralihkan. Gue kok jadi kedengeran tua banget, by the way.
Pernah sekali waktu, dalam kelas Telaah Pranata Inggris, sebagian besar mahasiswa termasuk gue, merasa amat lelah dan mengantuk. Beberapa mahasiswa mulai mengobrol, online, bahkan tidur. Gue dan teman-teman yang duduk di barisan paling depan pun ga bisa menghindar dari lelah dan ngantuk. Gue bahkan sempet tertidur dalam posisi menunduk seperti sedang membaca materinya. Sengaja ambil posisi gitu sih. Hahaha. Eh iya, ini pengalaman paling pertama gue tidur di dalam kelas. Pengalaman kedua, ketiga, dan keempat adalah pada kelas Tata Bahasa Sistemik yang disajikan oleh salah satu profesor gaek. Emang buset deh gue. Kembali ke kejadian dalam kelas Telaah Pranata Inggris itu, gue sempet mikir, kok tumben beliau ga negur atau mencoba berinteraksi dengan satu atau dua mahasiswa untuk menggiring kami kembali ke alam sadar dan ke materinya? Dan ternyata di akhir perkuliahan itu, dengan senyum khas kebapakannya, beliau lalu bilang, "okay class, I have a very interesting announcement for you, read these whole today's materials, including preface, for we'll have a quiz next meeting. Kuisnya akan berupa kuis lisan dengan urutan acak. Okay, see you!" Dan kami semua pun hanya bisa bengong. Semuanya pada bertanya dalam hati, "kuisnya lisan? buset!" Hahaha. Pada pertemuan selanjutnya (dua hari kemudian lho ini) beliau beneran ngasih kuis, tapi ga lisan. Gue bisa menebak, pertemuan sebelumnya itu ternyata beliau cuma mau memberikan "kejutan" buat kami yang ga memperhatikan dengan cara memberikan shock therapy untuk membaca materi yang lumayan banyak dan berat itu yang akan diujikan secara lisan dengan urutan yang acak pula. Geli banget melihat ekspresi yang bermacam-macam berhamburan di dalam kelas pada saat itu. Gue juga bisa melihat semnyum geli yang muncul di wajahnya. Gue jadi tambah ngefans ama beliau.
Okay, itulah sedikit cerita tentang pembimbing I gue. Sekarang ayo kita loncat ke saat-saat penyusunan skripsi. Rentang waktu dari ujian props sampai skripsi ini jadi memakan waktu yang cukup panjang. Selain karena pada semester VII lalu gue masih ada dua mata kuliah terakhir, bidang skripsi gue juga melenceng ke sosiologi sastra sementara gue selama ini berkonsentrasi di bidang English Linguistics. This means gue harus membaca dan belajar tentang sosiologi dan kaitannya dengan kesusasteraan, bidang yang selama ini belum pernah gue sentuh. Sempet mumet juga otak ini belajar dari titik nol koma nol lagi. Tapi mau gimana lagi, demi anak. Lho?
Yaks, jadi selama kurang lebih tiga bulan dari ujian props hidup gue cuma terisi dengan membaca dan belajar tentang sosiologi sastra. Kemudian, pada bulan Januari 2011, gue pun mulai melanjutkan menyusun analisis skripsi gue. Sebanyak tiga sampai empat kali seminggu gue ketemu ama pembimbing I untuk konsul setiap perkembangan yang ada. Pada setiap pertemuan itu gue kebanyakan bertanya dan meminta bantuan penjelasan atas materi-materi sosiologi sastra yang baru gue pelajari itu. Kita juga saling bertukar materi yang didapatkan. Beberapa materi yang gue dapatkan dari hasil research sendiri bahkan katanya merupakan materi yang baru juga buat beliau. Jadinya kita pun mempelajari materi-materi baru itu bersama-sama. Romantis kan? Hahaha.
Beliau sering sekali memberikan berbagai macam masukan materi yang ditulis tangan langsung lho olehnya di dalam beberapa lembar kertas. Kadang gue iseng menjumlah-jumlahkan hasil yang gue dapatkan dari beliau dibandingkan dengan hasil kerja gue sendiri. Bisa dibilang hasil kerja gue tak sebanding banyaknya dengan hasil kerja yang telah beliau sumbangkan dalam skripsi gue itu. Belom lagi ditambah dengan kesabarannya yang teramat sangat menghadapi segala ketidaktahuan, kemalasan, dan kedodolan gue. Semua itu dibingkai dengan ikhlas dan senyum tulus darinya yang tak terhingga. Dan semua hal ini membuat gue menjadi merasa berutang nyawa padanya. Ya, lebih dari sekedar berutang budi. Tanpa beliau, skripsi gue ga bakalan bisa kelar. Hingga setelah jungkir balik belajar dan terseok-seok menyusun, skripsi ini pun akhirnya kelar.
Satu hal yang menarik menurut gue adalah ketika pada titik-titik terakhir penyusunan skripsi, gue merasakan satu sedih yang tipis. Gue ga berusaha untuk jaim dengan mengkategorikan rasa sedih yang saat itu muncul ke dalam level "tipis", tapi emang "tipis" aja. Ini ga lebih, maupun ga kurang. Bagi kebanyakan orang kesedihan itu diilhami oleh kenangan-kenangan yang dialami bersama rekan-rekan yang sejurusan, sefakultas, se-UKM bareng, juga ada kisah kasih yang terungkap maupun yang ga terungkap, dan berbagai hal lainnya. Sayangnya bagi gue, ga banyak yang berhasil menjadi ilham bagi kesedihan pada titik akhir itu. Namun begitu, tetep aja kan gue mampu mendapatkan pengalaman sedih itu. Mengapa hal ini menarik bagi gue? Karena ini merupakan sebuah kejutan yang ga pernah gue duga. Beberapa senior yang telah lulus pernah memberitahukan tentang "surprise kecil" ini, tapi gue ga nyangka bakal mendapatkan "surprise kecil" itu juga. Selama tiga tahun lebih menuntut ilmu di kampus gue pikir pasti senang banget ketika lulus nanti, ternyata oh ternyata surprise kecil itu beneran ada.
February 01, 2011
Muslim dan Muslimah KesayanganMu
Aku tahu aku tak memiliki hak untuk memilih segala ketentuanMu.
Jika saja boleh, aku pasti akan memilih rahim seorang muslimah yang sayang padaMu,
Karena dari sanalah aku yakin dapatkan teduh cinta,
Yang selama ini kudapat secara abstrak dari sunyi alam ciptaanMu.
Dan jika aku boleh meminta satu saja hal padaMu,
Aku ingin menjadi seorang ibu dari muslim dan muslimah yang taat,
Aku rela melakukan apapun demi muslim dan muslimahku kelak,
Agar mereka menjadi muslim dan muslimah kesayanganMu,
Hidup damai dalam teduh cintaMu.
Jika saja boleh, aku pasti akan memilih rahim seorang muslimah yang sayang padaMu,
Karena dari sanalah aku yakin dapatkan teduh cinta,
Yang selama ini kudapat secara abstrak dari sunyi alam ciptaanMu.
Dan jika aku boleh meminta satu saja hal padaMu,
Aku ingin menjadi seorang ibu dari muslim dan muslimah yang taat,
Aku rela melakukan apapun demi muslim dan muslimahku kelak,
Agar mereka menjadi muslim dan muslimah kesayanganMu,
Hidup damai dalam teduh cintaMu.
January 27, 2011
Puisi Tak Jadi
Hey hey! Hiya blogku tersayang dan tersabar menampung tulisan-tulisan labilku.
Kali ini gue lagi coba nulis puisi, tetapi karena tak mampu menuliskannya dalam syair dan bunyi yang indah, jadi kutulis saja dalam rangkaian free verse sederhana a la Whitman.
P.S.: Jangan diketawain dong. :D
Seperti Whitman pada karya-karyanya,
Kucoba merangkai kata dengan rapi, tapi tetap tak bisa.
Apa karena aku malas membaca?
Ataukah karena aku tak peduli?
Aku hanya manusia bebal yang malas belajar,
Yang hanya duduk diam di pojok ruangan,
Memperhatikanmu dari kejauhan.
Kali ini gue lagi coba nulis puisi, tetapi karena tak mampu menuliskannya dalam syair dan bunyi yang indah, jadi kutulis saja dalam rangkaian free verse sederhana a la Whitman.
P.S.: Jangan diketawain dong. :D
Seperti Whitman pada karya-karyanya,
Kucoba merangkai kata dengan rapi, tapi tetap tak bisa.
Apa karena aku malas membaca?
Ataukah karena aku tak peduli?
Aku hanya manusia bebal yang malas belajar,
Yang hanya duduk diam di pojok ruangan,
Memperhatikanmu dari kejauhan.
August 11, 2010
Because You Can Never Turn Back the Time
Gue beberapa minggu ini nulis artikel untuk tiga NGOs di kota "X". Salah satu NGO tersebut menolong minority ethnic disabled people untuk kualitas hidup yang lebih baik dengan cara memudahkan akses- akses pendidikan, employment, social welfare, health leisure, recreational and cultural opportunities. Gue nulis tentang negara gue, lebih spesifik lagi tentang lingkungan sekitar gue. Awalnya karena email- emailan dengan teman yang di sana, terus dia minta izin nge-print email gue untuk artikel gitu, soalnya "baru" gitu katanya. Gue menuliskan apa adanya. Gue sama sekali ga mengedit apapun dari mata, telinga, dan otak gue. Dan itulah yang mereka suka. Katanya tulisan gue "naked" banget, "pure" gitu. Gue emang nulis purely soalnya gue suka yang "naked- naked". Hahaha :p
Wokey, enough for the writing part time-job stuff.
Gue sebenarnya mau curhat, but first, does it have to be censored first?
NO GO!
Ayahku adalah seorang yang sangat strict. Beliau mengajarkan tentang aturan- aturan dan norma- norma. Sejak kecil, Papa ( begitu gue memanggil beliau ) memberikanku segudang aturan dan norma yang harus gue patuhi. Beliau memberikan "hukuman" ketika gue tidak mematuhi dan melanggarnya. "Hukuman" tersebut bisa aja hanya berupa "nasehat", kadang juga kalau gue udah kelewat batas, beliau menyuruh gue pergi tidur. Honestly, gue ga terlalu suka "hukuman" semacam menyuruh pergi tidur, sebel aja. Tetapi itu lebih baik ketimbang cambukan jangka besi milik ibu guru sewaktu SD dulu. Kadang gue bertanya- tanya, mengapa mereka tega menyakiti fisik anak- anak dan anak didik mereka? Gue telah mendapatkan jawabannya, bahwa dengan begitu anak- anak dan anak didik mereka akan jauh menghargai aturan dan norma. Dan tentu saja akan menghargai hidup mereka. Sekian soal hukuman- hukuman. Gue ga begitu suka menghukum, ga berperikemanusiaan. Tetapi ada hal lain yang lebih ga berperikemanusiaan, gue akan ceritakan pada note ini.
Sedikit hal tentang Papa.
Papa seorang yang saaaaaangat sangat pintar, brilliant, intellect, and so forth and so forth. Mengapa gue begitu yakin dan PD menuliskan semua karakteristik- karakteristik tersebut? Karena setiap hal yang gue tanyakan pada Papa, selalu dijawab dengan cepat, lugas, dan brilliant. Papa sangat jarang menjawab "pas". You know "pas"? Ketika main kuis, dan kamu ga bisa jawab, maka kamu mengatakan "pas". Papa jarang menjawab "pas". Seingat gue, in my entire lfe, belum lebih dari sepuluh kali. Gue serius menghitungnya, soalnya bagi gue hal tersebut merupakan hal yang luar biasa. Mama mengimbangi Papa. Mama menjawab pertanyaan- pertanyaan gue dengan "rasa keibuannya". Maksudnya kadang hal- hal "abnormal" yang gue tanyakan dijawab dengan "diplomatis" dan sangat "keibuan". Dua manusia yang bagaikan air dan api, yang sangat gue kagumi, menyatu dalam gue.
Salah satu aturan yang Papa ajarkan adalah tentang menghargai waktu. Gue seorang muslimah. Satu perintah wajib kami adalah shalat lima waktu. Masing- masing memiliki waktunya. Kami diwajibkan untuk menunaikannya setiap waktunya tiba, jika telah lewat waktunya, maka lewatlah shalatnya. Though Allah memberikan kami toleransi "menggabungkan" shalat yang tertinggal dengan shalat yang berikutnya kecuali shalat Subuh. Hal lain tentang waktu adalah pada saat bulan Ramadhan. Dua waktu penting pada bulan Ramadhan yaitu Subuh dan Maghrib. Waktu Subuh ditandai dengan masuknya Fajar, pada saat itu pulalah puasa dimulai. Waktu Maghrib ditandai dengan terbenamnya matahari, pada saat itulah kami berbuka. Jika kami bermain- main pada dua waktu tersebut, maka makruhlah puasa kami. Gue ga berbicara begitu banyak soal agama, gue bukan manusia sempurna, ga ada manusia yang sempurna anyway. Gue cuma mau menekankan bahwa begitulah agama gue, Islam, mengajarkan betapa kita harus sangat menghargai waktu ( dengan segala toleransinya ).
Sejak kecil gue selalu berusaha semampu gue untuk menghargai waktu. Ketika gue telat, gue merasa sangat sangat berlumur dosa. Papa mengajarkan untuk membuat timetable dan skala prioritas. Di dalam timetable tersebut gue harus menuliskan waktu mulai dan berakhirnya setiap kegiatan dalam sehari hidup gue. Dengan begitu sangat minim waktu yang gue buang. Benar saja kata di dalam bahasa Inggris, "to spend" dan "TO WASTE" itu sangatlah berbeda. Papa memberikan toleransi, ketika semua hal SANGAT PENTING dalam sehari hidup gue telah gue lakukan, gue boleh "WASTE" a wee bit time of mine. Dalam hal ini Papa mengajarkan pentingnya menghargai waktu yang diberikan orang lain. Waktu yang diberikan orang lain tersebut juga dilabel dengan label "SANGAT PENTING."
Papa mengajarkan pentingnya menegakkan aturan dan norma tanpa pandang bulu, tanpa "ngaret" tentunya. Mama mengajarkan pentingnya memberi maaf pada ke-"ngaret"-an yang terjadi. Tetapi setiap gue memberikan maaf untuk ke-ngaret"-an yang terjadi, gue kecewa. So I can barely forgive anyone yang melanggar aturan. Tidak menghargai waktu merupakan hal yang lebih tidak berperikemanusiaan selain memberikan hukuman fisik pada anak- anak dan anak didik. People say me arrogant, no I am not. I am STRICT.
Papa dan Mama mengajarkan pentingnya menghargai waktu, mematuhi timetable, membuat skala prioritas, memberikan sangat sedikit toleransi, mengapa?
BECAUSE YOU CAN NEVER TURN BACK THE TIME.
Wokey, enough for the writing part time-job stuff.
Gue sebenarnya mau curhat, but first, does it have to be censored first?
NO GO!
Ayahku adalah seorang yang sangat strict. Beliau mengajarkan tentang aturan- aturan dan norma- norma. Sejak kecil, Papa ( begitu gue memanggil beliau ) memberikanku segudang aturan dan norma yang harus gue patuhi. Beliau memberikan "hukuman" ketika gue tidak mematuhi dan melanggarnya. "Hukuman" tersebut bisa aja hanya berupa "nasehat", kadang juga kalau gue udah kelewat batas, beliau menyuruh gue pergi tidur. Honestly, gue ga terlalu suka "hukuman" semacam menyuruh pergi tidur, sebel aja. Tetapi itu lebih baik ketimbang cambukan jangka besi milik ibu guru sewaktu SD dulu. Kadang gue bertanya- tanya, mengapa mereka tega menyakiti fisik anak- anak dan anak didik mereka? Gue telah mendapatkan jawabannya, bahwa dengan begitu anak- anak dan anak didik mereka akan jauh menghargai aturan dan norma. Dan tentu saja akan menghargai hidup mereka. Sekian soal hukuman- hukuman. Gue ga begitu suka menghukum, ga berperikemanusiaan. Tetapi ada hal lain yang lebih ga berperikemanusiaan, gue akan ceritakan pada note ini.
Sedikit hal tentang Papa.
Papa seorang yang saaaaaangat sangat pintar, brilliant, intellect, and so forth and so forth. Mengapa gue begitu yakin dan PD menuliskan semua karakteristik- karakteristik tersebut? Karena setiap hal yang gue tanyakan pada Papa, selalu dijawab dengan cepat, lugas, dan brilliant. Papa sangat jarang menjawab "pas". You know "pas"? Ketika main kuis, dan kamu ga bisa jawab, maka kamu mengatakan "pas". Papa jarang menjawab "pas". Seingat gue, in my entire lfe, belum lebih dari sepuluh kali. Gue serius menghitungnya, soalnya bagi gue hal tersebut merupakan hal yang luar biasa. Mama mengimbangi Papa. Mama menjawab pertanyaan- pertanyaan gue dengan "rasa keibuannya". Maksudnya kadang hal- hal "abnormal" yang gue tanyakan dijawab dengan "diplomatis" dan sangat "keibuan". Dua manusia yang bagaikan air dan api, yang sangat gue kagumi, menyatu dalam gue.
Salah satu aturan yang Papa ajarkan adalah tentang menghargai waktu. Gue seorang muslimah. Satu perintah wajib kami adalah shalat lima waktu. Masing- masing memiliki waktunya. Kami diwajibkan untuk menunaikannya setiap waktunya tiba, jika telah lewat waktunya, maka lewatlah shalatnya. Though Allah memberikan kami toleransi "menggabungkan" shalat yang tertinggal dengan shalat yang berikutnya kecuali shalat Subuh. Hal lain tentang waktu adalah pada saat bulan Ramadhan. Dua waktu penting pada bulan Ramadhan yaitu Subuh dan Maghrib. Waktu Subuh ditandai dengan masuknya Fajar, pada saat itu pulalah puasa dimulai. Waktu Maghrib ditandai dengan terbenamnya matahari, pada saat itulah kami berbuka. Jika kami bermain- main pada dua waktu tersebut, maka makruhlah puasa kami. Gue ga berbicara begitu banyak soal agama, gue bukan manusia sempurna, ga ada manusia yang sempurna anyway. Gue cuma mau menekankan bahwa begitulah agama gue, Islam, mengajarkan betapa kita harus sangat menghargai waktu ( dengan segala toleransinya ).
Sejak kecil gue selalu berusaha semampu gue untuk menghargai waktu. Ketika gue telat, gue merasa sangat sangat berlumur dosa. Papa mengajarkan untuk membuat timetable dan skala prioritas. Di dalam timetable tersebut gue harus menuliskan waktu mulai dan berakhirnya setiap kegiatan dalam sehari hidup gue. Dengan begitu sangat minim waktu yang gue buang. Benar saja kata di dalam bahasa Inggris, "to spend" dan "TO WASTE" itu sangatlah berbeda. Papa memberikan toleransi, ketika semua hal SANGAT PENTING dalam sehari hidup gue telah gue lakukan, gue boleh "WASTE" a wee bit time of mine. Dalam hal ini Papa mengajarkan pentingnya menghargai waktu yang diberikan orang lain. Waktu yang diberikan orang lain tersebut juga dilabel dengan label "SANGAT PENTING."
Papa mengajarkan pentingnya menegakkan aturan dan norma tanpa pandang bulu, tanpa "ngaret" tentunya. Mama mengajarkan pentingnya memberi maaf pada ke-"ngaret"-an yang terjadi. Tetapi setiap gue memberikan maaf untuk ke-ngaret"-an yang terjadi, gue kecewa. So I can barely forgive anyone yang melanggar aturan. Tidak menghargai waktu merupakan hal yang lebih tidak berperikemanusiaan selain memberikan hukuman fisik pada anak- anak dan anak didik. People say me arrogant, no I am not. I am STRICT.
Papa dan Mama mengajarkan pentingnya menghargai waktu, mematuhi timetable, membuat skala prioritas, memberikan sangat sedikit toleransi, mengapa?
BECAUSE YOU CAN NEVER TURN BACK THE TIME.
August 09, 2010
Kebiasaan "Tertawa-tawa" Orang Indonesia
Yak, kali ini gue mau nulis sedikit tentang hal yang gua alamin tadi siang.
Jadi ceritanya tadi itu dosen pendamping gue untuk kegiatan Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKNP) datang ke tempat KKNP gue. Just for your record, gue KKNP di Pertamina Unit Pemasaran IV, di fungsi Marine Region VII. Sebelum sampai di tempat gue, beliau nelpon berkali-kali nanya letak kantornya di mana. Berkali-kali juga gue jelasin jalan menuju ke kantor, tapi ga tau kenapa beliau kagak ngerti juga. Nanyanya gini, "saya ada di samping sebuah rumah bertingkat dengan cat merah jambu, di dekat pasar, dari sini lewat mana nih ke tempat kamu?" Yaelah Bu'..Bu'..Menekulihat ibu..Singkat cerita, setelah dua ratusan kali beliau nelpon, akhirnya beliau lihat deh sebuah mesjid berjudul "Mesjid Nurul Huda." "Mesjid Nurul Huda itu di sebelah mananya tempat kamu?" "Nah itu mesjid di kantor tempat aku, Ibu." "Oh yaudin, dah nyampe nih." Phew, akhirnya sampe deh beliau.
Jeng jeng..
Masuklah beliau ke ruangan tempat gue nebeng KKNP. Pas masuk, dia dah nyengar-nyengir gitu sambil nyalamin semua pegawai yang ada di ruangan. Nah, dari sinilah tema note ini berasal. Beliau kemudian langsung bertemu dengan supervisor pendamping gue, Pak Rahman namanya. Pak Rahman tuh orangnya bae' banget deh. Kebangetan bae'nya. Pegawai-pegawai di Marine Region VII ini juga semuanya bae'-bae' banget. Gue sampai segan gitu ama mereka. Tapi karena hospitality dan warmness mereka, gue jadi ga canggung deh. Okay, kembali ke soal dosen pendamping gue yang dalam langkah-langkahnya bertemu dengan Pak Rahman. Mereka kemudian berjabatan tangan saling memperkenalkan diri. Terus mereka ngobrol tentang kegiatan KKNP, hal-hal yang gue kerjakan di sini, and so forth.
Selama obrolan singkat mereka itu, si Mbah Dosen ga berhenti sedetik pun menyunggingkan cengirannya. Gue yang tadinya seneng beliau datang menjenguk, jadi takut ama beliau. Takutnya kalau-kalau di detik selanjutnya sepasang taring yang tajam keluar dari sela-sela giginya, terus ngegigit Pak Rahman, terus Pak Rahman-nya ditelen kotak-kotak (soalnya klo ditelen bulat-bulat sudah biasa, jadi kali ini ditelen kotak-kotak. Besok-besok ditelen trapesium-trapesium), terus si Mbah Dosen keselek, terus semua orang pada kaget dan kerubutin beliau. Terus gue kabur. Terus gue mendengar suara adek gue, "Bangun ga lu! Gue sirem nih! Gue sirem nih!" Thanks God, ternyata semua itu hanya mimpi. Eh, tapi beneran Mbah Dosen tadi datang lho.
Nah, itu dia. Soal cengiran itu, gue jadi wonder aja, klo gue perhatikan nih yah, orang Indonesia seneng banget nyengar-nyengir. Entah itu kalau ketemu face-to-face, atau kalau dimarahin/ditegur, dipuji. Gue paling heran klo itu tuh, ketemu face-to-face kaya' pertemuan Si Mbah Dosen Pendamping, ama supervisor pendamping gue, kok gue jadi bingung mengidentifikasi peristiwa itu sebagai apa yah, pasti deh nyengar-nyengir. In my very own opinion, it would look a lot better if you only put a sweet smile on your face really. No offense.
Jadi ceritanya tadi itu dosen pendamping gue untuk kegiatan Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKNP) datang ke tempat KKNP gue. Just for your record, gue KKNP di Pertamina Unit Pemasaran IV, di fungsi Marine Region VII. Sebelum sampai di tempat gue, beliau nelpon berkali-kali nanya letak kantornya di mana. Berkali-kali juga gue jelasin jalan menuju ke kantor, tapi ga tau kenapa beliau kagak ngerti juga. Nanyanya gini, "saya ada di samping sebuah rumah bertingkat dengan cat merah jambu, di dekat pasar, dari sini lewat mana nih ke tempat kamu?" Yaelah Bu'..Bu'..Menekulihat ibu..Singkat cerita, setelah dua ratusan kali beliau nelpon, akhirnya beliau lihat deh sebuah mesjid berjudul "Mesjid Nurul Huda." "Mesjid Nurul Huda itu di sebelah mananya tempat kamu?" "Nah itu mesjid di kantor tempat aku, Ibu." "Oh yaudin, dah nyampe nih." Phew, akhirnya sampe deh beliau.
Jeng jeng..
Masuklah beliau ke ruangan tempat gue nebeng KKNP. Pas masuk, dia dah nyengar-nyengir gitu sambil nyalamin semua pegawai yang ada di ruangan. Nah, dari sinilah tema note ini berasal. Beliau kemudian langsung bertemu dengan supervisor pendamping gue, Pak Rahman namanya. Pak Rahman tuh orangnya bae' banget deh. Kebangetan bae'nya. Pegawai-pegawai di Marine Region VII ini juga semuanya bae'-bae' banget. Gue sampai segan gitu ama mereka. Tapi karena hospitality dan warmness mereka, gue jadi ga canggung deh. Okay, kembali ke soal dosen pendamping gue yang dalam langkah-langkahnya bertemu dengan Pak Rahman. Mereka kemudian berjabatan tangan saling memperkenalkan diri. Terus mereka ngobrol tentang kegiatan KKNP, hal-hal yang gue kerjakan di sini, and so forth.
Selama obrolan singkat mereka itu, si Mbah Dosen ga berhenti sedetik pun menyunggingkan cengirannya. Gue yang tadinya seneng beliau datang menjenguk, jadi takut ama beliau. Takutnya kalau-kalau di detik selanjutnya sepasang taring yang tajam keluar dari sela-sela giginya, terus ngegigit Pak Rahman, terus Pak Rahman-nya ditelen kotak-kotak (soalnya klo ditelen bulat-bulat sudah biasa, jadi kali ini ditelen kotak-kotak. Besok-besok ditelen trapesium-trapesium), terus si Mbah Dosen keselek, terus semua orang pada kaget dan kerubutin beliau. Terus gue kabur. Terus gue mendengar suara adek gue, "Bangun ga lu! Gue sirem nih! Gue sirem nih!" Thanks God, ternyata semua itu hanya mimpi. Eh, tapi beneran Mbah Dosen tadi datang lho.
Nah, itu dia. Soal cengiran itu, gue jadi wonder aja, klo gue perhatikan nih yah, orang Indonesia seneng banget nyengar-nyengir. Entah itu kalau ketemu face-to-face, atau kalau dimarahin/ditegur, dipuji. Gue paling heran klo itu tuh, ketemu face-to-face kaya' pertemuan Si Mbah Dosen Pendamping, ama supervisor pendamping gue, kok gue jadi bingung mengidentifikasi peristiwa itu sebagai apa yah, pasti deh nyengar-nyengir. In my very own opinion, it would look a lot better if you only put a sweet smile on your face really. No offense.
Friends Never Forget
I think of my women friends as a raft we make with our arms.
We are out there in the middle of some great scary body of water,
forearm to forearm, hand to elbow, holding tight.
Sometimes I am part of the raft,
joining up with others to provide safe harbour;
Other times I need to climb abroad myself,
until the storms subside and I can see my way clear to swim to shore.
The raft drifts apart when it's not needed, but never disbands, never forgets.
We are out there in the middle of some great scary body of water,
forearm to forearm, hand to elbow, holding tight.
Sometimes I am part of the raft,
joining up with others to provide safe harbour;
Other times I need to climb abroad myself,
until the storms subside and I can see my way clear to swim to shore.
The raft drifts apart when it's not needed, but never disbands, never forgets.
Subscribe to:
Posts (Atom)
